Namun, pembangunan ini sempat terhambat oleh berbagai peristiwa. Pada tahun 1750-1754, istana mengalami kerusakan berat akibat pemberontakan perang Banten yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang menyerang dan membakar Kampong Baroe, termasuk istana yang masih dalam tahap pembangunan.
Setelah pemberontakan mereda, renovasi besar dilakukan di bawah Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811), yang memperluas dan memperbaiki istana. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826), menara utama ditambahkan dan area sekitarnya diubah menjadi Kebun Raya Bogor, yang diresmikan pada 18 Mei 1817 dan kini menjadi salah satu kebun botani tertua dan paling terkenal di dunia.
Istana Buitenzorg mengalami kerusakan besar akibat gempa bumi pada 10 Oktober 1834. Akibatnya, bangunan utama dirobohkan dan dibangun kembali pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861).
Istana ini kemudian ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda pada tahun 1870. Bangunan ini berdiri megah dengan gaya arsitektur Eropa abad ke-19, termasuk jembatan penghubung yang dibangun dari kayu berbentuk lengkung.
Setelah Indonesia merdeka, pada Januari 1950, Istana Buitenzorg diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia dan mulai digunakan sebagai Istana Kepresidenan Bogor. Dengan berbagai renovasi dan sejarah yang sarat dengan nuansa kolonial, Istana Bogor tetap menjadi salah satu simbol penting dalam sejarah kepresidenan Indonesia.
Artikel Terkait
Bogor Rasa NTT, Bajawa Flores Suguhkan Tempat Nongkrong Berkualitas Sembari Seruput Kopi Serta Menikmati Syahdunya Lantunan Musik
Rutan Depok Kembali Dapatkan Pengargaan IKPA dari KKPN Bogor
Kemensos Berikan Bantuan ATENSI untuk Lansia Sebatangkara di Kabupaten Bogor
MAS Group Luncurkan Areum Parc, Perumahan dengan Konsep Korean Dreams di Bogor
PDIP Gelar Pelatihan Pemenangan Pilkada Gelombang Ketiga di Puncak Bogor