"Jadi lebih tepatnya, sekitar maksimal 1 jam saya bertemu, itupun lebih banyak mengisi biodata, dan 3 jam dibiarkan menunggu tanpa pertanyaan," ujar Hasto.
Baca Juga: Tjutjuk Sunario Maju Calon Bupati Blitar Diusung Gerindra dan Demokrat
Rupanya selama 3 jam menunggu itu, penyidik KPK justru memeriksa Kusnadi dengan cara-cara yang diwarnai intimidasi dan perampasan barang. "Apa yang dialami Sdr Hasto seperti cerita Pangeran Diponegoro, diajak berunding, tetapi ujung-ujungnya mau ditangkap," ujar sejarawan Bonnie Triyana sambil tertawa ketika bertemu dan memberi semangat pada Hasto.
Kembali pada HM, sebetulnya dia diperas oleh oknum KPU yang awalnya meminta padanya Rp900 juta, (namun konon hanya akan diberinya Rp400 juta) jika mau diloloskan sebagai anggota DPR RI Pengganti Antar Waktu (PAW) menggantikan almarhum Nazarudin Kiemas, Caleg PDIP 2019 terpilih yang kemudian meninggal dunia. Jadi ini murni seperti kebiasaan di masyarakat, kena tilang polisi, lalu damai. Jadi sesederhana itu.
Orang yang tidak mengerti persoalan inipun bertanya, "Lah kenapa PDIP memilih HM sebagai PAW dari almarhum Nazarudin Kiemas, padahal HM kan no urut 6?".
Iya Mas, HM memang no urut 6, namun Keputusan Mahkamah Agung menyatakan jika suara pemilih lebih banyak diberikan ke Parpol dan bukan ke caleg, maka untuk menentukan Caleg PAW yang bisa masuk parlemen itu partai politiknya. Itulah alasan mengapa PDIP memilih HM, terutama karena lulus economic of law dari Inggris tsb.
Baca Juga: Rilis Daftar The Global 2000, Forbes Kembali Nobatkan BRI Sebagai Perusahaan Terbesar di Indonesia
Jadi semuanya sudah mulai jelas kan duduk persoalannya? Sangat jelas sekali, yang tidak jelas itu kan kenapa kasus purba HM ini dihidupkan lagi, dibesar-besarkan lagi. Dan tidak ada panas, tidak ada hujan kok mendadak ada petir dengan memunculkan kembali nama Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang dikait-kaitkan lagi dengan kasusnya.
Apakah karena penguasa sudah "ngebet" ingin membungkam suara-suara kritis, progresif revolusionernya Hasto agar tak lagi banyak bicara menyerang Rezim Pinokio yang kerap nggedabrus, sering bicara lain dengan kenyataan, hingga Hasto harus terus diincar dan diburu?
Kesimpulan saya, KPK tidak punya bukti keterlibatan Hasto, maka Rossa melalukan perampasan handphone dan buku. Dari hasil rampasan itulah akan dicari alasan-alasan baru untuk menggiring keterlibatan Hasto.
Jadi ini signal agar PDIP diam dan segera tunduk pada kekuasaan. Namun yang saya kaget, menghadapi ancaman seperti itu Hasto malah tenang dan mengatakan "Bagi saya ini adalah ritual kehidupan kader. Bung Karno begitu lama dipenjara dan dibuang bertahun-tahun karena perjuangannya. Bu Mega ditekan, diinterogasi dan anak buahnya diteror hingga kantor Partai diserang. Apa yang saya lakukan belum ada artinya dengan perjuangan Bung Karno dan Bu Mega. Jadi saya hadapi semua ini sebagai bagian penggemblengan kader."
Baca Juga: Yasonna Laoly Terima Gelar Adat Mangngassai Dg Makkulle, dari Kerajaan Gowa
Dengan sikapnya itu, ada satu hal yang ingin kami katakan "Mas Hasto tidak sendirian. Ada jutaan kader PDIP dan simpatisannya yang siap menunggu dan mengikuti instruksi perjuangannya untuk membela dan melindungi hak-hak konstitusional Rakyat Indonesia! Bu Megawati Soekarnoputri merah, Mas Hasto Kristiyanto merah, kamipun merah! Bu Megawati Soekarnoputri putih, Mas Hasto Kristiyanto putih, kamipun putih! Perjuangan kami untuk memajukan harkat dan martabat bangsa ini tak dapat ditawar-tawar lagi. Inilah api perjuangan kami yang tak akan pernah padam sampai dunia digulung nanti!" Merdeka!
Artikel Terkait
OPINI: Awas Kalian Kualat!
OPINI: Belajar Memahami Dinamika Politik Indonesia dari Connie Rahakundini Bakrie
OPINI: Tentang Hotman Paris
OPINI: Mungkinkan Gerindra dan PDIP Membangun Kerja Sama?
OPINI: Obor Api Perjuangan PDIP yang Tak Pernah Padam