Kamis, 4 Juni 2026

OPINI: Mungkinkan Gerindra dan PDIP Membangun Kerja Sama?

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Sabtu, 20 April 2024 | 05:50 WIB
Pengamat politik Saiful Huda EmS (MNI)
Pengamat politik Saiful Huda EmS (MNI)

NAWACITAPOST.COM - Menstruasi yang jika dipanjangkan menjadi Menteri Segala Urusan dan Situasi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) ada dalam kendali satu menteri ini.

Jika Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) 22 April 2024 nantinya tidak dapat merubah keadaan, di mana pemilihan presiden (Pilpres) 2024 harusnya dua putaran dan Prabowo Subianto atau setidaknya Gibran Rakabuming Raka harusnya didiskualifikasi, maka Prabowo akan menjadi presiden di tengah hutan (IKN). Dan Gibran akan menjadi Wakil Presiden di Istana Kepresidenan di Jakarta yang lebih berkuasa dari Presiden Prabowo sendiri.

Usia Prabowo yang makin menua akan semakin melemah. Sedangkan Partai Gerindra-nya sendiri sudah berhasil dilemahkan oleh Jokowi menjadi partai yang perolehan suaranya berada di bawah PDIP dan Golkar.

Prabowo yang sudah hafal benar bagaimana politisi-politisi pendukung utamanya memiliki banyak riwayat penghianatan, tidak akan bersedia mau bekerja sama secara serius dengan Airlangga Hartarto, Zulkifli Hasan, Yusril Ihza Mahendra, dan Anies Matta, serta Fahri Hamzah.

Baca Juga: Usai Bertemu Jokowi, Menhan Prabowo Terima Kunjungan CEO Apple Tim Cook di Kemhan

Jika Prabowo bekerja sama dengan Airlangga itu nantinya sama halnya akan memperkuat kekuatan politik Jokowi yang sudah lama diprediksi banyak orang mengincar menjadi Ketua Umum Golkar. Sedangkan jika bekerjasama secara serius dengan Zulkifli Hasan (PAN), Prabowo akan banyak dirugikan sebab Zulkifli sudah sangat terkenal sebagai Raja Lompat, yang partainya tidak seberapa besar tapi sangat lihai melobi dan memanfaatkan keadaan.

Dan bila Prabowo bekerja sama secara serius dengan Yusril (PBB) dan Anies Matta (Partai Gelora) itu tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Sebab, keduanya partai gurem dan hanya besar di omongannya saja.

Untuk bekerja sama dengan PSI ya sangat tidak mungkin, soalnya Ketua Umumnya (Kaesang Pangarep) masih bocil dan masih terus berlatih pidato. Apalagi setelah usaha penggelembungan suaranya sudah ketahuan hingga partainya tak lolos ke Senayan.

Sedangkan kalau bekerja sama dengan Nasdem, Prabowo tentu sudah sangat tahu Surya Paloh itu siapa, kepentingannya apa. Prabowo pasti cemas. Lalu kalau kerja sama dengan PKS, Prabowo juga tentu akan berpikir berulang-ulang, khawatir para pendukungnya akan kabur.

Baca Juga: Mangkir dari Pemeriksaan KPK, Kuasa Hukum: Gus Muhdlor Sakit

Prabowo akan nyaris sendirian dan merasa kesepian. Karena itu, tidak akan ada pilihan politik lain lagi bagi Prabowo kecuali harus mengingat siapa sosok negarawan yang pernah menganjurkannya balik pulang ke tanah air setelah pelariannya beberapa tahun di Yordania.

Prabowo pastinya akan mengingat siapa Putri Proklamator yang pernah memberinya karpet merah dan kembali hidup terhormat di tengah rakyat yang dahulunya melaknatnya. Ya, dialah Megawati Soekarnoputri, pejuang perempuan tangguh dan bijaksana yang sering disalahpahami banyak orang.

Dengan merapatnya Prabowo pada Megawati, kekuatan Jokowi perusak demokrasi akan tersingkir. Dan Prabowo akan leluasa menebus dosa-dosa politik dan kemanusiaan masa lalunya dengan menata kembali Indonesia yang sudah "cacat" di mata dunia.

Kerja sama Gerindra dan PDIP akan dapat mengangkat kembali derajat dan martabat kaum marginal, yang semasa pemerintahan Jokowi kerap dipermalukan dengan mengejar-ngejar bantuan sosial (bansos) dan kaos yang dilempar-lemparkan presiden dari mobilnya hingga banyak yang berjatuhan.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini