NAWACITAPOST.COM — Barisan imperium bisnis konglomerat asal Kalimantan Selatan, H. Samsudin Andi Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, kembali menggelegar di panggung pasar modal domestik.
Lewat serangkaian taktik korporasi yang agresif, Haji Isam tidak hanya memperbesar porsi perburuan saham raksasa batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN), tetapi juga mempertaruhkan miliaran saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) ke perbankan BUMN demi memperkuat pendanaan ekspansi gurita bisnisnya.
Langkah spektakuler ini makin mempertegas manuver Haji Isam yang tak henti mengocok ulang konfigurasi kepemilikan aset-aset vital nasional.
Baca Juga: Kilas Balik Sejarah Finansial ASEAN: Vietnam Resmi Naik Kelas Sejajarkan Diri dengan Indonesia
Di satu sisi, kendaraan bisnisnya, PT Jhonlin Baratama, mendongkrak target akuisisi saham BYAN dari porsi awal sekitar 30 persen menjadi 30,25 persen.
Penambahan amunisi ini dipastikan setelah adanya perombakan kesepakatan jual beli saham bersyarat dengan konglomerat kawakan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Sebagaimana dilaporkan Bloomberg Technoz pada 7 Oktober 2026, jumlah saham BYAN yang bakal dialihkan resmi membengkak dari semula 10.000.000.500 saham menjadi 10.084.088.370 saham.
Tambahan 84.087.870 lembar saham tersebut menandai dahaganya kelompok usaha Jhonlin untuk makin mengakar kuat di rantai pasok batu bara nasional.
Meski demikian, penyelesaian transaksi jumbo ini masih bergantung penuh pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan yang tengah berproses ketat.
Namun, kejutan manuver Haji Isam tidak berhenti pada perburuan saham BYAN. Di saat bersamaan, langkah finansial berisiko tinggi dimainkan oleh pemegang saham pengendali JARR, PT Eshan Agro Sentosa.
Perusahaan yang tercatat dimiliki oleh Haji Isam sebagai penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) tersebut nekat menggadaikan seluruh kepemilikan sahamnya di JARR kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Berdasarkan keterbukaan informasi JARR bernomor 096/EXT-CORSEC/JARR/X/2026 tertanggal 7 Oktober 2026 yang disampaikan Direktur JARR Temmy Iskandar, penandatanganan akta gadai saham tersebut telah dilangsungkan pada 30 September 2026.
Tidak tanggung-tanggung, Eshan mempertaruhkan sebanyak 7.997.556.204 lembar saham—atau setara 86,64 persen dari total modal disetor JARR—demi menjamin pinjaman jumbo.
“Tujuan transaksi sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh afiliasi Perseroan,” tulis Direktur Utama JARR Indra Irawan dalam keterbukaan informasi, Kamis (8/10/2026).
Meskipun laporan registrasi pemegang efek versi koreksi menegaskan bahwa kepemilikan Eshan sebesar 86,64 persen tersebut bukan merupakan 100 persen saham JARR yang beredar di publik, penjaminan seluruh porsi pengendali ini tetap menjadi sorotan tajam para pelaku pasar.
Langkah mengagunkan benteng bisnis CPO demi melapangkan fasilitas kredit bagi entitas afiliasi memperlihatkan betapa saling terikatnya strategi finansial dalam jaringan bisnis sang taipan.
Penggunaan dua kendaraan berbeda—PT Jhonlin Baratama untuk mencaplok BYAN dan PT Eshan Agro Sentosa untuk mempertaruhkan saham JARR ke Bank Mandiri—menjadi bukti sahih betapa lincah dan berani skenario finansial yang dirancang Haji Isam.
Akrobat korporasi ini tak pelak menempatkan kelompok usaha Jhonlin di pusat perhatian Bursa Efek Indonesia, sekaligus mempertegas dominasi sang konglomerat dalam jajaran elit pebisnis tanah air.
Artikel Terkait
Catat! Kota Mataram Gelar Rekayasa Lalu Lintas Saat Parade Rider MotoGP Mandalika 2026
Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Kandas, MK Tegaskan Pemohon Tak Punya Legal Standing
Analisis Mahfud MD: Pengumuman Mendadak Pergantian Kapolri Manuver Hindari Ganjalan Politik
Gugatan Ijazah Gibran Ditolak MK, Tim Kuasa Hukum Langsung Sujud Syukur
Ada di Level Berapa? Rupiah Kembali Tertekan di Kisaran Rp17.800 per Dolar AS