NAWACITAPOST.COM — Di tengah sengitnya dinamika perdagangan global, Indonesia melalui Bea Cukai mengambil langkah strategis dengan hadir dalam rangkaian BRICS Customs Experts Meeting dan BRICS Heads of Customs Administrations Meeting 2026.
Pertemuan bergengsi yang berlangsung pada 17-19 Agustus 2026 di Chandigarh, India ini menjadi panggung krusial bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi ekonomi dan mendorong kelancaran arus barang lintas negara.
Di bawah keketuaan India yang mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”, pertemuan ini membedah berbagai agenda vital di bawah Pilar Economy and Finance.
Indonesia, yang resmi menjadi anggota penuh BRICS sejak 1 Januari 2025, memanfaatkan forum ini untuk membawa misi besar: memperjuangkan kepentingan nasional sekaligus memperkuat posisi negara-negara Global South.
“Keterlibatan Bea Cukai dalam forum tersebut tidak hanya merupakan bentuk partisipasi dalam kerja sama internasional, tetapi juga upaya memperjuangkan kepentingan Indonesia melalui kerja sama kepabeanan yang relevan dengan perdagangan, pengawasan lintas negara, teknologi, dan peningkatan kapasitas,” ujar Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetyo.
Dalam forum yang dihuni 11 negara anggota tersebut, Bea Cukai secara aktif membahas sejumlah isu krusial melalui BRICS AEO Working Group, BRICS Law Enforcement Working Group, BRICS Digitalization and Intellectualization Working Group, hingga BRICS Capacity Building.
Fokus utama keterlibatan Indonesia terletak pada pengembangan program Authorized Economic Operator (AEO) dan Mutual Recognition Arrangement (MRA).
Skema ini diproyeksikan membuka jalur tol perdagangan bagi pelaku usaha domestik yang patuh agar mendapatkan kemudahan proses kepabeanan di seluruh negara mitra BRICS.
Di sisi lain, sinergi penegakan hukum melalui BRICS Joint Operation dan pertukaran informasi intelijen menjadi perisai tangguh dalam menghentikan maraknya perdagangan ilegal lintas negara.
Tak kalah krusial, adopsi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi kepabeanan menjadi benteng baru Indonesia dalam meningkatkan efisiensi pelayanan serta keakuratan pengawasan di perbatasan.
“Perkembangan perdagangan internasional menuntut administrasi kepabeanan untuk semakin adaptif terhadap teknologi dan data. Melalui kerja sama BRICS, Bea Cukai memiliki kesempatan untuk terus belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan kompetensi agar pelayanan kepada pengguna jasa semakin efisien, sementara fungsi pengawasan dapat dilakukan secara lebih akurat dan tepat sasaran,” tambah Budi.
Langkah aktif Indonesia pada Forum BRICS 2026 ini mempertegas peran Bea Cukai sebagai motor penggerak fasilitas perdagangan sekaligus pengawal keamanan pasokan global, guna menciptakan ekosistem perdagangan internasional yang lebih aman, efisien, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Artikel Terkait
Merasa Terintimidasi, Parlan Lamakraja Ajukan Keberatan Resmikan Laporan ke Polisi
Pertaruhan Nyawa Manggala Agni Kepung Karhutla Kalbar di Tengah Keterbatasan Alat
Masyarakat Serbu Layanan Digital, Ini Cara Ketahui Penerimaan Bansos PKH 2026
Kepungan Asap Karhutla Membara, Kasus ISPA di Pekanbaru Melonjak Tajam
Kukuhkan Benteng Keuangan Negara, Menkeu Suahasil Nazara Tuntaskan Perombakan Besar Eselon II