Pada akhirnya, sejarah tidak pernah bertanya berapa banyak wartawan yang berhasil dibungkam, berapa banyak pengamat yang berhasil didiamkan, atau berapa banyak masyarakat sipil yang berhasil diberi stigma.
Sejarah hanya akan bertanya satu hal: ketika diberi amanah memimpin republik ini, apakah seorang presiden memilih merangkul suara rakyat atau menjauhinya. Sebab kekuasaan hanyalah persinggahan, jabatan hanyalah titipan, sedangkan konstitusi adalah janji yang harus dijaga.
Pers yang bebas bukan ancaman bagi negara, melainkan penjaga agar negara tetap setia kepada cita-cita kemerdekaan.
Kritik bukan musuh negara. Kritik adalah sahabat paling jujur bagi seorang pemimpin yang ingin meninggalkan warisan kebesaran, bukan sekadar jejak kekuasaan. Dan hanya pemimpin yang berani mendengar suara yang tidak ingin ia dengar, yang kelak dikenang bukan semata sebagai Presiden Republik Indonesia, melainkan sebagai negarawan yang memuliakan demokrasi. ***