Rabu, 30 September 2026

Buntut Harga Minyak Dunia Melonjak, Penyesuaian Tarif BBM Nonsubsidi Mengintai Oktober 2026

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Rabu, 30 September 2026 | 17:31 WIB
Potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai Oktober 2026. (Instagram.com/@pertaminapatraniaga)
Potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai Oktober 2026. (Instagram.com/@pertaminapatraniaga)

NAWACITAPOST.COM — Gejolak pasar energi global kembali membayangi perekonomian nasional.
 
Buntut dari lonjakan harga minyak dunia yang bergerak liar hingga hampir menembus angka US$107 per barel, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di tanah air berpotensi kuat mengalami penyesuaian tarif mulai Oktober 2026.

Sinyal ketidakpastian tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
 
 
Mekanisme harga BBM nonsubsidi yang sangat dinamis dan senantiasa mengekor pergerakan pasar internasional menuntut evaluasi secara berkala guna menjaga keseimbangan ekosistem energi nasional.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan bahwa volatilitas minyak mentah dunia merupakan variabel utama yang memicu kalkulasi ulang terhadap seluruh lini produk BBM nonsubsidi di Indonesia, seperti Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, Dexlite, hingga Pertamina Dex.

“Untuk yang nonsubsidi akan disesuaikan dengan harga pasar. Kita evaluasi rata-rata dalam satu bulan, kira-kira penyesuaiannya berapa. Ya, peluang penyesuaian itu ada,” ungkap Yuliot kepada awak media di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta pada Selasa, 29 September 2026.

Kendati potensi kenaikan mengintai di depan mata, Yuliot menyebut pihak pemerintah bersama pemangku kepentingan terkait masih terus merampungkan kalkulasi matematis atas pergerakan formula harga dasar, sehingga besaran pasti perubahan tarif BBM nonsubsidi per 1 Oktober 2026 belum dapat difinalisasi.
 
Baca Juga: Menembus Puing Kebakaran Praihambuli: Aksi Solidaritas Resort Peternakan Ringankan Duka Aleks

Kepastian BBM Subsidi dan Perang Melawan Disinformasi

Di tengah ancaman kenaikan tarif BBM nonsubsidi yang berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah, pemerintah bergerak cepat memberikan kepastian mengenai nasib pasokan energi bersubsidi.
 
Mengingat ketersediaan BBM jenis Pertalite dan Biosolar merupakan pilar vital penopang denyut nadi perekonomian rakyat kecil, pemerintah menjamin tidak akan ada gejolak harga pada segmen tersebut.

Yuliot menegaskan bahwa kebijakan intervensi pemerintah tetap solid untuk memproteksi harga BBM bersubsidi dari dampak guncangan krisis minyak global hingga pengujung tahun.

“Sesuai arahan Pak Menteri, sampai akhir tahun kita pertahankan tidak ada kenaikan untuk Pertalite dan BBM subsidi lainnya,” jelasnya.
 

Langkah tegas ini sekaligus merespons kepanikan publik akibat maraknya disinformasi yang beredar luas di berbagai platform media sosial sejak pertengahan September.
 
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, merilis pernyataan resmi untuk membendung narasi menyesatkan yang menyebutkan bahwa pemerintah bakal menaikkan harga Pertalite dalam waktu dekat.

“Saat ini sangat masif informasi di media sosial mengenai kenaikan harga Pertalite. Kami luruskan bahwa konten tersebut adalah hoaks,” ujar Anggia beberapa waktu lalu.

Strategi Jangka Panjang: Menggenjot Kedaulatan Energi

Ketergantungan terhadap impor dan rentannya ketahanan nasional akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia memicu pemerintah untuk melancarkan strategi akselerasi produksi domestik secara agresif.
 
Penyesuaian harga BBM pasar tidak hanya dipandang sebagai respons jangka pendek, melainkan dorongan fundamental bagi reformasi sektor hulu migas.
 

Dalam kesempatan yang sama, Yuliot membeberkan peta jalan strategis pemerintah dalam memicu peningkatan lifting minyak bumi nasional untuk memutus rantai kerentanan energi di masa depan.

“Ada beberapa lapangan dalam negeri yang terindikasi bisa memproduksi sekitar 2.500 hingga 3.000 barel per hari,” ungkap Yuliot.

Langkah taktis melalui eksplorasi sumur-sumur baru dan optimalisasi eksploitasi lapangan migas potensial akan dipacu secara masif dalam rentang dua tahun ke depan demi mengejar target kemandirian energi jangka panjang.

“Potensi dari eksplorasi dan eksploitasi ini akan kita genjot pada 2027 dan 2028, sehingga target produksi di atas 1 juta barel per hari bisa tercapai,” tandasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini