Rabu, 17 Juni 2026

1 Syuro 1448 H di Al Zaytun: Ribuan Tokoh Bangsa Bersatu Serukan Kebangkitan Indonesia di Tengah Gelombang Tantangan Global

Photo Author
Restu Zebua, Nawacita Post
- Rabu, 17 Juni 2026 | 15:35 WIB
Peringatan Tahun Baru Hijrah 1 Muharram 1448 Hijriah atau yang dikenal luas sebagai 1 Syuro
Peringatan Tahun Baru Hijrah 1 Muharram 1448 Hijriah atau yang dikenal luas sebagai 1 Syuro

NAWACITAPOST.COM — Lautan manusia memenuhi Masjid Rahmatan Lil 'Alamin, Ma'had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026), dalam peringatan Tahun Baru Hijrah 1 Muharram 1448 Hijriah atau yang dikenal luas sebagai 1 Syuro. Lebih dari 10 ribu peserta dari berbagai daerah dan latar belakang hadir dalam momentum kebangsaan yang mengusung tema besar "Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global."

Acara tersebut menjadi panggung pertemuan para akademisi, guru besar, tokoh masyarakat, unsur TNI, pemuka lintas agama, praktisi pendidikan, hingga tamu mancanegara yang bersama-sama menyuarakan pentingnya persatuan sebagai fondasi masa depan Indonesia.

Ketua Panitia, Eji Anugrah, SS., M.AP., menegaskan bahwa tema yang diangkat tahun ini berakar dari gagasan besar Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang tentang pentingnya pendidikan sebagai jalan strategis menuju kemajuan bangsa. Menurutnya, Indonesia memiliki seluruh modal untuk menjadi negara maju, asalkan mampu menjaga persatuan serta membangun sistem pendidikan yang transformatif dan revolusioner.

"Ini adalah saat yang tepat untuk membangun peradaban. Dalam suasana damai yang kita nikmati hari ini, bangsa Indonesia harus mempersiapkan generasi masa depan yang unggul dan mandiri," ujarnya.

Semangat tersebut mendapat dukungan dari berbagai tokoh nasional yang hadir. Wartawan Senior Majalah Tokoh Indonesia, Drs. Ch. Robin Simanullang, bahkan menyebut Al Zaytun sebagai "laboratorium persatuan Indonesia". Menurutnya, nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa tidak hanya menjadi slogan, tetapi telah diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui keterbukaan terhadap berbagai golongan dan latar belakang masyarakat.

Pandangan senada disampaikan Drs. Amich Alhumami, M.A., M.Ed., Ph.D., yang menegaskan bahwa pendidikan adalah instrumen paling ampuh dalam membangun bangsa yang unggul dan berdaya saing. Ia mengingatkan bahwa Indonesia lahir dari gagasan besar para pemikir dan kaum terpelajar yang mampu mengubah kemustahilan menjadi kenyataan.

Sorotan terhadap pentingnya kemandirian nasional juga datang dari Dr. Ir. Johan Pasaribu, Ketua II IKABNAS Lemhannas RI. Ia mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya Indonesia harus ditopang oleh sumber daya manusia yang profesional, nasionalis, dan memiliki dedikasi kuat terhadap pembangunan bangsa. Pendidikan vokasi, menurutnya, menjadi salah satu kunci menyiapkan generasi masa depan.

Dari perspektif pertahanan, Kolonel Inf. Dikdik Sadikin menegaskan bahwa persatuan adalah benteng utama bangsa dalam menghadapi perubahan teknologi, gejolak ekonomi global, transformasi sosial budaya, hingga berbagai ancaman terhadap keutuhan negara.

Optimisme terhadap masa depan Indonesia juga disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D. Ia menilai Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa dan membutuhkan strategi pendidikan yang tepat untuk mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan nyata.

Sementara itu, Pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), Ir. Ilham Aidit, mengingatkan bahwa dunia sedang memasuki era penuh ketidakpastian. Perang dagang, perubahan iklim, revolusi kecerdasan buatan (AI), hingga dinamika geopolitik global menuntut Indonesia tampil sebagai pelaku, bukan sekadar penonton. Menurutnya, persatuan adalah syarat mutlak untuk mewujudkan hal tersebut.

Kehadiran tokoh-tokoh lintas agama semakin mempertegas semangat kebangsaan yang menjadi ruh peringatan 1 Syuro tahun ini. Pdt. Dr. Amir Aritonang menegaskan bahwa persatuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya slogan. Ia mengapresiasi Al Zaytun sebagai ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai elemen bangsa demi tujuan bersama: Indonesia yang lebih baik.

Hal serupa disampaikan Pdt. Wim Wairata, M.Th., yang menilai pendidikan, spiritualitas, dan kebersamaan merupakan jawaban atas berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Sedangkan Ws. Gunadi Prabuki dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia menegaskan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan bangsa menjaga kerukunan dalam kemajemukan.

Ketua FKUB Kota Tangerang Selatan, Dr. H. Fachrudin Zuhri, bahkan menyebut Al Zaytun sebagai salah satu contoh konkret praktik nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Dukungan internasional juga hadir melalui A. Ruzizan Maphilindo dari Malaysia yang mengapresiasi semangat persatuan dan model pendidikan Al Zaytun. Menurutnya, konsep pendidikan yang dikembangkan di kawasan tersebut layak menjadi inspirasi bagi pembangunan sumber daya manusia di Asia Tenggara.

Halaman:

Editor: Restu Zebua

Sumber: Ali Aminulloh

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini