Yassierli tidak ingin auditor hanya berkutat dengan tumpukan kertas laporan masa lalu. Ia memerintahkan penggunaan teknologi mutakhir untuk membaca pola risiko yang tak kasat mata, memetakan potensi kebocoran anggaran negara, dan mengidentifikasi hambatan administratif yang selama ini menjadi batu sandungan bagi pelayanan publik.
"Kita tidak boleh lagi tertinggal. Gunakan AI untuk membedah risiko sebelum penyimpangan itu benar-benar terjadi. Pengawasan harus menjadi bagian dari solusi, bukan beban yang melambatkan akselerasi program kerja," tegas sang Menteri.
Baca Juga: Fokus Stabilkan Harga dan Pasokan, Bapanas Aktif Kelola Pangan Sejak 2022
Misi Penyelamatan: Menjadi Mitra Strategis
Lebih jauh, Yassierli menginstruksikan para auditor untuk turun gunung menjadi mitra strategis. Mereka tidak lagi boleh duduk manis di ruang isolasi, tetapi harus menjadi penasihat yang mampu membantu memecahkan kebuntuan regulasi.
"Pengawasan bukan lagi tentang mencari siapa yang salah, tapi tentang memastikan setiap sen uang rakyat terserap dengan akuntabel dan setiap program prioritas tidak terganjal oleh birokrasi yang kaku," tambahnya.
Langkah berani Yassierli ini menjadi babak baru bagi Kementerian Ketenagakerjaan. Dengan menuntut sistem yang lebih preventif dan berbasis data, Kemnaker kini tengah di bawah tekanan untuk membuktikan bahwa mereka bisa bekerja dengan kecepatan tinggi tanpa mengorbankan integritas—sebuah upaya besar untuk memastikan bahwa di tangan mereka, mandat rakyat bukan hanya dijalankan, melainkan dikawal hingga ke titik tujuan yang tepat.
Artikel Terkait
Tepat Janji! Proyek Pengaspalan Komplek Kayuringin Timur Rampung Dikerjakan
Ketegangan Memuncak, Iran Ancam Bom Tel Aviv dalam Hitungan Jam Jika Agresi di Lebanon Selatan Tak Berhenti
Visi Radikal Ahok: Pangkas Kabinet Jadi 20 Menteri dan Berantas Korupsi Lewat Transparansi Total
Genjot Kualitas SDM, Kemnaker Resmi Buka Pelatihan Vokasi Nasional 2026
Megah dan Menjulang, Ini Sembilan Gedung Tertinggi di Jakarta