Menjadikan Partai Golkar sebagai benteng terakhir perlindungan politik bagi Jokowi di masa depan adalah pilihan cerdas yang tak boleh disia-siakan. Maka diam-diamlah Presiden Jokowi mengatur strategi dan mengendalikan Partai Golkar melalui operator-operator politiknya yang sudah lama Jokowi simpan. Dan yang sudah lama menjadi anggota kabinetnya, salah satunya yakni politisi Partai Golkar yang berinisial AGK.
Baca Juga: OJK Cabut Izin Usaha PT BPR Bank Pasar Bhakti Sidoarjo
Di masa-masa menjelang Pemilu 2024 ini, AGK yang merupakan komandan operator politik Jokowi di Partai Golkar, memiliki banyak pekerjaan dan pengaruh di Partai Golkar. Dibandingkan ketua umumnya yang sudah pasrah total pada Presiden Jokowi. Tidak mau tunduk dan pasrah pada Presiden Jokowi, berarti ia harus siap-siap berurusan dengan Kejaksaan Agung kembali.
Rancangan strategi untuk mendongkrak dan menggelembungkan suara Partai Golkar telah selesai dibuat dan berakhir dengan hasil yang sebenarnya tidak terlalu cukup memuaskan. Karena Partai Golkar masih juga tidak bisa mengengalahkan kedigdayaan suara PDIP yang kader-kadernya sangat militan dan mengakar rumput.
Hal ini bisa dilihat dari prediksi lembaga-lembaga survei nasional, yang menjelang Pemilu 2024 Partai Golkar diperkirakan hanya memperoleh suara sekitar 7 %. Namun setelah hari pemilihan Partai Golkar memperoleh suara nyaris 2x lipat dari hasil semula semua lembaga survei nasional yakni menjadi 13 %.
Baca Juga: Ngantuk Selesaikan Tungsura, Petugas KPPS Kecelakaan dan Meninggal
Luar biasa drama politik ini telah dimainkan nyaris sempurna oleh Jokowi, sehingga Partai Golkar yang tadinya suaranya akan jeblok di bawah Partai Gerindra dan Partai Demokrat menjadi hampir setara dengan Partai Gerindra meskipun masih kalah jauh dengan suara PDIP.
Lantas apa tujuan dan keuntungan politis yang akan diperoleh oleh Jokowi terhadap strategi dan drama politiknya ini? Itu tak lain dan tak bukan, Presiden Jokowi menginginkan Partai Golkar nantinya akan dijadikan kendaraan politik sekaligus benteng perlindungan politik Jokowi terhadap pengaruh PDIP dan Partai Gerindra.
Prabowo jika benar nantinya berhasil menjadi Presiden sudah memiliki kendaraan politik, yakni Partai Gerindra. Lalu Gibran Rakabuming mau mengendarai partai apa? Sedangkan Gibran sendiri sudah terusir dari PDIP.
Jika sudah demikian, maka Presiden Prabowo akan leluasa berkuasa dan bisa berbuat apa saja, termasuk mengunci mati posisi dan peran Wapresnya, yakni Gibran. Karenanya Jokowi memerlukan kendaraan tempur politik taktis, dan itulah Partai Golkar!.
Olehnya jangan heran mengapa Presiden Jokowi sampai pernah memberikan isyarat politik dukungannya pada Partai Golkar dengan mengenakan Dasi warna kuning dan pernah mengendarai mobil warna kuning.
Presiden Jokowi memang nampaknya sedang terindikasi terjangkit "penyakit" kuning. Dan itulah Partai Golkar yang menjadi benteng perlindungan terakhir politiknya, setelah lama ditinggalkan suhu politik Golkar ternama, yakni Soeharto penguasa ORBA.
Mampukah Jokowi mengendalikan Partai Golkar untuk membuldoser Partai Gerindra ketika nantinya Wapres Gibran dikunci mati posisi dan perannya oleh Presiden --jikapun benar terpilih--Prabowo?
Artikel Terkait
Jokowi Mengaku sudah bertemu Prabowo-Gibran dan Ucapkan Selamat
Sejumlah Menteri Jokowi Kompak Kenakan Busana Hitam Saat Pencoblosan. Srimul: ekspresi duka cita!
Rocky Gerung Sebut Film "Dirty Vote" Bakal Jadi Monumen Seumur Hidup tentang Siapa Itu Jokowi!
Akhir Perang Politik Megawati Vs Jokowi
RIP Demokrasi Menggema: Megawati Konsisten Jaga Konstitusi, Sementara Jokowi Disebut Perusak Demokrasi