Jumat, 5 Juni 2026

Mengenang Johannes Leimena: Menteri Kesehatan Paling Jujur Kesayangan Soekarno dan Penggagas Puskesmas!  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Rabu, 16 April 2025 | 10:39 WIB
Johannes Leimena adalah salah satu Menteri Kesehatan RI.  (X)
Johannes Leimena adalah salah satu Menteri Kesehatan RI. (X)

NAWACITAPOST.COM - Johannes Leimena adalah salah satu Menteri Kesehatan yang paling sering menjabat di pemerintahan Soekarno. Ia memegang posisi ini selama 21 tahun meskipun kabinet sering berganti, menunjukkan kepercayaan besar yang diberikan Bung Karno kepadanya.

Leimena lahir di Ambon pada 6 Maret 1905 dan menyelesaikan pendidikan kedokterannya di STOVIA pada 1930. Sebelum terjun ke dunia politik, ia sudah aktif dalam berbagai organisasi seperti Jong Ambon dan Pergerakan Pemuda Kristen Indonesia.

Pertemuan pertama Leimena dengan Bung Karno terjadi pada 1946, ketika ia merawat korban pertempuran di Tangerang. Kunjungan Soekarno ke Akademi Militer Tangerang membuka jalan baginya untuk menjadi bagian dari Kabinet Sjahrir II sebagai menteri muda.

Leimena kemudian dipromosikan menjadi Menteri Kesehatan dalam beberapa kabinet penting, seperti Kabinet Amir Sjarifuddin dan Kabinet Hatta. Keahliannya di bidang kesehatan dan kemampuannya dalam lobi politik membuatnya tetap berada di jajaran kabinet meskipun pemerintahan berganti.

Citramaja City, tempat hunian modern yang menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan keharmonisan hidup. (Instagram)

Selama menjabat sebagai Menteri Kesehatan, Leimena menghadapi masalah kesehatan yang signifikan, seperti tingginya angka kematian ibu dan anak. Ia mengimplementasikan berbagai program kesehatan, seperti vaksinasi cacar dan penyemprotan DDT untuk mengatasi malaria.

Selain itu, Leimena mendirikan Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) untuk meningkatkan gizi ibu dan anak. Ia juga memperkenalkan Bandung Plan. Konsep Bandung Plan dipresentasikan oleh Leimena pada tahun 1952 sebagai cikal bakal Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Gagasan ini mencakup pembangunan fasilitas kesehatan mulai dari rumah sakit pusat di kota hingga pos kesehatan di desa terpencil. Namun, pelaksanaannya terhambat pada masa Presiden Soekarno karena keterbatasan dana. Menariknya, ia berhasil menurunkan angka kematian ibu dan anak dari 22% pada 1951 menjadi 11,8% pada 1955.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, ide ini dihidupkan kembali oleh Menteri Kesehatan Gerrit Augustinus Siwabessy pada tahun 1968. Program pembangunan Puskesmas kemudian dimasukkan ke dalam program Pembangunan Lima Tahun (Pelita).

Baca Juga: Menelusuri Jejak 5 Kota Tertua di Indonesia yang Telah Berdiri Sebelum Republik Ini Lahir  

Selama Pelita II (1974–1979), sekitar 2.000 Puskesmas berhasil dibangun. Hingga tahun 1993, total Puskesmas yang dibangun mencapai 6.749 unit di seluruh Indonesia.

Leimena dikenal sebagai sosok yang jujur dan sederhana, yang sangat dihormati oleh Bung Karno. Soekarno bahkan mengenangnya sebagai orang yang paling jujur yang pernah ditemuinya, sebuah penghargaan besar untuk seorang pejabat publik.

Setelah kejatuhan pemerintahan Soekarno pada 1965, Leimena memilih untuk mengundurkan diri dari kabinet. Meskipun demikian, ia tetap diamanahi posisi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung hingga 1973 oleh Presiden Soeharto.

Johannes Leimena meninggal dunia pada 29 Maret 1977, meninggalkan warisan penting dalam bidang kesehatan Indonesia. Dedikasinya dalam mengembangkan sistem kesehatan negara ini terus dikenang sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah Indonesia.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini