Kamis, 4 Juni 2026

Agustus Gea: 10 Alasan Tidak Mendukung Prabowo-Gibran

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Senin, 4 Desember 2023 | 12:13 WIB



Banyak di antara para pendukungnya yang bermaksud menumpang kekuasaannya bila menang, datang dari kelompok Islam fundamentalis, kelompok anti demokrasi dan yang berambisi mendirikan negara khilafah, serta kelompok takfiri yakni kelompok yang mudah mengkafirkan kelompok lain yang dianggap tidak sejalan dengan alirannya.
 










  1. Janji Kampanye yang Tidak Realistis





Program unggulan pada kampanyenya seperti dalam mencegah stunting di Indonesia, salah satunya dengan memberikan makan siang gratis dan bila menang pilpres, Prabowo-Gibran menyiapkan Dana Abadi untuk Pesantren serta KIS lansia (yang meniru yang sudah ada menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani) merupakan program yang dapat diibaratkan hanya memberi ikan bukan memberi pancing. Karena setelah diberi makan siang gratis sekali dua kali lalu selanjutnya bagaimana?





Begitu juga dengan Program Dana Abadi bagi Pesantren, ini program sebenarnya sudah ada secara umum, cuma programnya diberikan khusus untuk pesantren, lalu yang lain selain pesantren bagaimana? Justru kelihatan sekali mengambil hati pesantren atau umat islam semata yang dapat menimbulkan kecemburuan social bagi umat yang lain, serta rawan diskriminasi yang akhirnya menimbulkan kegaduhan.






  1. Bersikap Mendua Soal Nasionalisme





Prabowo memproyeksikan diri sebagai ultra nasionalis, anti asing. Padahal dari mulutnya sendiri pernah keluar pernyataan bahwa dirinya adalah produk asing dan berkiblat ke barat. Adiknya Hasyim yang aktif mendukungnya pernah menyampaikan dalam suatu forum di Amerika bahwa bila Prabowo terpilih akan membuka negeri ini selebar lebarnya buat Amerika dan kawan kawan. Sikap dan sifat hipokrit ini bagi mereka adalah bagian dari permainan politik amoral yang dianggap lumrah untuk merebut kekuasaan.
 










  1. Kampanye Teror





Pada Kampanye tahun 2019 Prabowo adalah capres pertama di negeri ini yang menggunakan taktik menyebar pesimisme dan ketakutan kepada rakyat banyak antara lain atas dasar sebuah buku fiksional. Menyatakan bahwa dirinya harus menang sebab bila kalah negeri ini akan runtuh dalam waktu yang tidak terlalu lama.





Menyatakan dirinya sebagai satu-satunya yang bisa menyelamatkan negeri ini dari keruntuhan. Pendukungnya menebar kebohongan adanya invasi puluhan juta tenaga asing yang merampas kesempatan kerja bagi warga negara, yang hingga sekarang tidak terbukti.
 






  1. Dikelilingi Ahli yang Tak Berintegritas





Di antara tim “ahli” yang mengelilinginya, sejauh ini tampak ada tokoh-tokoh yang kelihatannya berintegritas dan diakui serta dapat diandalkan keahliannya untuk membantu sang presiden sebagai bagian dari pemerintahnya bila terpilih padahal sebaliknya. Dalam timnya yang senior, justru terdapat beberapa yang tidak konsisten pendiriannya, berkhianat terhadap cita-cita reformasi, dan bahkan ada yang tadinya menuntut agar Prabowo dimahmilubkan tetapi sekarang mendukungnya dengan fanatik.
 










  1. Kehidupan Pribadi/Personal yang Tidak Bisa Dijadikan Panutan





Kehidupan berkeluarga seseorang sering dan pantas dipakai sebagai salah satu ukuran kemampuan memimpin dan memberi pengayoman dan pendidikan kepada yang lain. Ketenangan batin yang diperlukan untuk menjalankan tugas sehari-hari dimulai dari keharmonisan dan kedamaian dalam berkeluarga. Kontras dan beda dengan Capres lawannya, kehidupan kekeluargaan Prabowo terkesan tidak harmonis dan tidak bisa dijadikan teladan. Bila Prabowo terpilih, untuk pertama kali negeri akan tanpa ibu negara.
 
Kebiasaan sehari-hari yang elitis dengan pagar-pagar tinggi yang mengelilingi kediamannya, mencerminkan terpisah dan jauhnya kehidupn sehari-harinya dari kehidupan rakyat biasa dan karenanya tidak peka terhadap kebutuhan rakyat kecil.
 
Semoga Yang Maha Kuasa menganugerahi bimbingan dan hidayahNya kepada kita semua agar mampu menentukan pilihan yang tepat dalam pemilu presiden mendatang, dan semoga TYE melindungi bangsa ini. Amiin.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini