NAWACITAPOST.COM — Gelombang protes warga merebak di media sosial merespons kepungan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan.
Warga meluapkan kekecewaan mendalam atas klaim pemerintah yang menyebut aktivitas masyarakat tetap berjalan normal di tengah penurunan kualitas udara yang kian mengkhawatirkan.
Kondisi terparah salah satunya melanda Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Kamis (24/9/2026). Jarak pandang yang merosot drastis serta bau sangit yang menyengat tak hanya melumpuhkan mobilitas, tetapi juga mulai memicu gangguan kesehatan serius pada masyarakat.
Aksi protes ini dipicu oleh laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan karhutla. Suharyanto mengklaim roda kehidupan harian warga tidak terdampak secara signifikan.
“Kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal. Jadi lalu lintas, toko-toko, rumah makan dan lain sebagainya juga biasa, Bapak Presiden, tidak ada yang terganggu,” ujar Suharyanto, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (25/9/2026).
“Hanya memang untuk keluar masuk khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini yang sedikit terganggu,” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa upaya pemadaman terus dimaksimalkan dan memproyeksikan krisis akan usai paling lambat minggu ketiga November 2026.
Baca Juga: Skandal Korporasi Politik Pati: Bupati Nonaktif Sudewo Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp3,6 Miliar
“Kami akan terus melaksanakan kegiatan dengan maksimal. Kami yakinkan ini akan berakhir ketika paling cepat pertengahan Oktober 2026 dan paling lambat minggu ketiga November 2026,” tandasnya.
Jeritan Warga di Tengah Kabut Pekat
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari publik Kalimantan yang merasa realita di lapangan berbanding terbalik dengan laporan resmi BNPB.
Berbagai dokumentasi berupa foto, video, hingga indikator Indeks Kualitas Udara (AQI) diunggah tanpa filter untuk menunjukkan keparahan situasi.
Melalui platform Threads, akun @rizdrone mengunggah rekaman situasi Palangka Raya pada Kamis sore tanpa suntingan foto.
“Kabut asap terparah hari ini Palangka Raya 24 September 2026 video di ambil sekitar jam 15:30 WIB. Video yang di-upload asli tanpa filter atau edit warna,” tulisnya.
Nada keprihatinan senada dilontarkan akun @uko****r yang menyoroti lonjakan dramatis indeks pencemaran udara.
“AQI udara tembus 2.800 lebih di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ini hanya hitungan jam aja loh ya drastis naik, yang katanya ini normal, gimana ini warga? Bener normal dan FOMO? Atau cuma editan kamera aja semua ini?” tulisnya.
Dampak asap pekat juga dilaporkan menjangkau wilayah lain seperti Balikpapan, Kalimantan Timur. Warganet pemilik akun @aid*******3 menuliskan, “Balikpapan, di Kamis, 24 September 2026 juga tidak sehat. Kabut asap pekat pagi ini.”
Kritik paling tajam disampaikan akun @nat******u yang menggambarkan kondisi seram akibat kepungan asap bahaya tersebut.
“Apa yang kami alami ini bukan hal yang normal, Kamis, 24 September 2026 Palangka Raya. Kami diminta untuk pura-pura normal, sementara kami seperti dikurung dalam ruangan yang berisi gas beracun. Please, ini nggak normal,” ujarnyâ.
Hingga saat ini, warga terus mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk mengambil tindakan darurat yang lebih nyata guna melindungi keselamatan jiwa dan kesehatan masyarakat di seluruh kawasan terdampak.