Baca Juga : Jabat Walikota Solo, Gibran Tak Lagi Berkiprah Diusaha
DI LOKASI makam, Gibran memerintahkan sekolah tersebut yang siswanya merusak makam ditutup. Alasannya, Pertama melaksanakan kegiatan belajar tatap muka tanpa adanya izin rekomendasi dari Pemerintah Kota Solo sebagai penanggungjawab Satgas Covid di daerah itu. Kedua siswanya merusak makam.
Ayah dari Jan Ethes dan La Lembah Manah ini menegaskan bahwa orang yang merusak makam sudah keterlaluan. Segera bina secara hukum kepada siswa dan pembina serta guru sekolah tersebut untuk segera diproses hukum.
Polisi pun bergerak cepat akan kejadian itu. Diduga intoleransi menyeruak dalam pengrusakan makam, maka hal itu sudah masuk ke ranah kepolisian.
Ternyata intolerensi bukan terjadi antara sesama manusia hidup saja. Orang yang mati pun jadi sasaran kekesalan dan kental aroma intolerensinya.
Gerak cepatnya Gibran mengatasi pengrusakan ini, patut diapresiasi. Sehingga efeknya tidak menjalar dan menyebar ke seantaro Solo raya. Harapan pihak atau kelompok intoleren gigit jari.
Yang jelas dan pasti intolerensi harus mati, dan toleransi yang hidup, begitu intisari sikap tegas Gibran.