Beijing, NAWACITA - Kepolisian China mengklaim telah menyelamatkan hingga lebih dari 1.100 perempuan, sebagian besar dari Asia Tenggara, yang hendak " dijual" sebagai istri, pada tahun lalu.
Sebanyak 17 anak-anak juga telah diselamatkan dalam sejumlah operasi gabungan antara kepolisian China dengan Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Thailand, antara bulan Juli hingga Desember.
"Lebih dari 1.300 tersangka, termasuk 260 orang asing, ditahan dalam penggerebekan atas dugaan penculikan dan menjual orang, serta penipuan pernikahan," kata Kementerian Keamanan Publik dalam pernyataannya, Kamis (20/6).
Disampaikan juru bicara Kementerian Keamanan Publik, Guo Lin, dalam beberapa tahun terakhir, pelaku kriminal domestik maupun asing, telah berkolusi untuk memikat perempuan dari negara-negara tetangga ke China dengan menjanjikan pekerjaan atau pernikahan.
"Beberapa wanita bahkan dibawa paksa dan diculik untuk kemudian dijual sebagai istri," kata Lin, dikutip AFP, Jumat (21/6).
Pemberlakukan kebijakan satu anak yang telah berlangsung selama satu dekade di China, serta adanya preferensi bahwa anak laki-laki lebih baik, telah menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk wanita di China.
Sementara di negara-negara tetangga, para wanita muda yang didorong oleh kemiskinan dan harapan mendapat penghidupan yang lebih baik, dengan mudah tergoda untuk pekerja atau menikah di China.
Namun beberapa menjadi mangsa para pelaku penipuan perkawinan yang membuat wanita-wanita itu berisiko mengalami pelecehan, penahanan di bawah UU Imigrasi China, atau dipaksa bekerja dalam prostitusi.
Dalam satu kasus di provinsi Anhui, China tengah, polisi mengungkapkan telah menemukan 11 perempuan Vietnam dengan visa turis kedaluwarsa yang berada di rumah persembunyian milik sebuah "agen perkawinan".
Dikatakan jika agen tersebut menawarkan perempuan-perempuan itu kepada pria China kaya untuk dijadikan istri dengan bayaran antara 3.000 hingga 10.000 yuan (sekitar Rp 6-20 juta).
Polisi mengatakan, dalam beberapa kasus turut melibatkan agen tenaga kerja abal-abal, yang memikat perempuan dengan janji bekerja di China, namun pada akhirnya justru dijual untuk pernikahan paksa
Editor: Martin
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terkini
Minggu, 29 Juni 2025 | 06:00 WIB
Rabu, 28 Mei 2025 | 17:33 WIB
Senin, 19 Mei 2025 | 17:39 WIB
Selasa, 11 Maret 2025 | 06:00 WIB
Jumat, 7 Maret 2025 | 18:22 WIB
Kamis, 6 Februari 2025 | 19:25 WIB
Kamis, 6 Februari 2025 | 19:06 WIB
Sabtu, 1 Februari 2025 | 06:00 WIB
Jumat, 31 Januari 2025 | 10:26 WIB
Jumat, 31 Januari 2025 | 09:49 WIB
Minggu, 17 Maret 2024 | 21:25 WIB
Minggu, 28 Januari 2024 | 21:07 WIB
Minggu, 22 Oktober 2023 | 17:22 WIB
Jumat, 1 September 2023 | 13:55 WIB
Kamis, 31 Agustus 2023 | 16:11 WIB
Jumat, 25 Agustus 2023 | 18:23 WIB
Kamis, 24 Agustus 2023 | 13:44 WIB
Kamis, 22 Juni 2023 | 20:56 WIB
Kamis, 22 Juni 2023 | 08:46 WIB
Kamis, 22 Juni 2023 | 08:18 WIB