Tiap tahun, umat Kristen merayakan Natal pada tanggal 25 Desember untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus. Di balik perayaan ini, tersimpan sejarah yang menarik dan beragam tradisi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari meriahnya Natal.
Sejarah Natal
Kata "Natal" berasal dari bahasa Portugis yang artinya "Kelahiran," turunan dari bahasa Latin "Dies Natalis" yang berarti "Hari Lahir." Setiap tahun pada tanggal 25 Desember, umat Kristen merayakan Natal sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Meski sekarang identik dengan aspek keagamaan, beberapa tradisi Natal juga dipengaruhi oleh budaya Barat seperti pohon Natal, kartu ucapan, berbagi hadiah, dan kisah tentang Sinterklas.
Baca Juga: Anak Muda Jangan Anti Sejarah, Berikut 5 Rekomendasi Museum Instagramable di Surabaya
Menurut para teolog Mesir, perayaan Natal pertama kali tercatat di Aleksandria sekitar tahun 200 Masehi. Namun, tanggal pastinya kontroversial, dengan perkiraan mulai dari 20 Mei, 19 atau 20 April. Beberapa tempat lain bahkan merayakan pada 5 atau 6 Januari. Perayaan pada 25 Desember baru diterima lebih luas pada abad ke-5.
Tetapi, perdebatan tetap ada. Beberapa berpendapat bahwa musim dingin tidak mungkin bagi para gembala menjaga domba di padang rumput malam itu, sementara yang mendukung mengatakan bahwa domba tetap di kandang pada musim dingin.
Perayaan Saturnalia
Ada pandangan lain yang menyebutkan bahwa sumber perayaan Natal berasal dari tradisi Romawi pra-Kristen yang memperingati dewa pertanian Saturnus dalam perayaan Saturnalia. Festival ini dilangsungkan setiap bulan Desember dan mencapai puncaknya pada titik balik musim dingin, 25 Desember menurut kalender Julian.
Dewa Saturnus dikenal sebagai dewa benih tanaman dan pepohonan, mengajarkan cara bercocok tanam yang baik. Saturnalia, awalnya ritual sederhana, berkembang menjadi festival besar sejak abad ke-5 SM. Pada tahun 497 SM, festival ini terkait dengan pembangunan Kuil Saturnus di Roma.
Saturnalia kemudian menjadi penting dalam memasukkan agama Kristen ke Kekaisaran Romawi. Para penguasa Kristen mengubah tujuan festival ini dan menetapkannya sebagai hari kelahiran Yesus, menjembatani agama Kristen dengan tradisi Romawi.
Tradisi Natal
Beberapa tradisi Natal yang kita kenal sekarang sebenarnya merupakan penyerapan dari budaya Barat. Pohon Natal, kartu ucapan Natal, dan Sinterklas semuanya memiliki akar dalam tradisi Eropa.
Artikel Terkait
Resmikan kesekretariatan di gedung Sejarah, TPD Ganjar-Mahfud Jatim: Kami lanjutkan dan sempurnakan program Presiden Jokowi
Rengasdengklok di Mata Ganjar: Cerita Perjalanan ke Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong Berusia Ratusan Tahun
Hari Ibu 2023, Siti Atikoh sebut Peringatan Sejarah Perjuangan Perempuan Indonesia dalam Isu Pendidikan
Anak Muda Jangan Anti Sejarah, Berikut 5 Rekomendasi Museum Instagramable di Surabaya