Jumat, 2 Oktober 2026

Saham GOTO Ambles 44 Persen dalam Empat Hari Transaksi Bebas Barrier Rp50

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Jumat, 2 Oktober 2026 | 13:53 WIB
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kehilangan 44 persen harganya dalam empat hari perdagangan sejak batas minimum harga saham Rp50 dibuka. (Foto: gotocompany.com)
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kehilangan 44 persen harganya dalam empat hari perdagangan sejak batas minimum harga saham Rp50 dibuka. (Foto: gotocompany.com)

NAWACITAPOST.COM — Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengalami tekanan hebat dengan kehilangan 44 persen harganya dalam empat hari perdagangan sejak batas minimum harga saham Rp50 dibuka oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hingga penutupan perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, saham perusahaan teknologi tersebut berada di level Rp28. Kondisi tragis di pasar modal ini terjadi meski laporan keuangan semester I menunjukkan perseroan sebenarnya telah berbalik membukukan laba.

Berdasarkan data TradingView, GOTO turun Rp4 atau 12,50 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp32. Harga Rp28 itu semakin menjauh dari posisi Rp50 sebelum ketentuan baru perdagangan berlaku pada Senin, 28 September.
 
 
Angka tersebut merupakan posisi perdagangan intrahari, bukan harga penutupan Kamis.

Penurunan berlangsung bertahap namun pasti. GOTO turun menjadi Rp43 pada Senin, kemudian Rp37 pada Selasa, dan Rp32 pada Rabu. Hingga penutupan perdagangan Kamis, harga kembali merosot ke Rp28.

Tekanan dahsyat tersebut berlangsung setelah Bursa Efek Indonesia mengubah ketentuan perdagangan yang memungkinkan saham diperdagangkan hingga Rp1. Untuk saham pada papan utama, pengembangan, dan ekonomi baru dengan harga Rp11–200, batas auto rejection bawah atau ARB ditetapkan sebesar 15 persen.

Contrarian Realitas: Laba dan Arus Kas Berbalik Positif

Kejatuhan saham itu berkontras tajam dengan perbaikan kinerja keuangan GOTO pada enam bulan pertama tahun ini.
 

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit, GOTO membukukan laba konsolidasian Rp423,25 miliar pada semester I 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih mencatat rugi Rp741,96 miliar.

Adapun laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp607,49 miliar, berbalik dari rugi Rp580,01 miliar. Angka tersebut berbeda dari laba konsolidasian karena terdapat rugi yang menjadi bagian kepentingan nonpengendali.

Pendapatan bersih meningkat sekitar 28,5 persen menjadi Rp10,99 triliun, dari Rp8,56 triliun. Pertumbuhan pendapatan melampaui kenaikan total biaya dan beban yang sekitar 17 persen, sehingga GOTO mencetak laba usaha Rp781,88 miliar, dibandingkan rugi usaha Rp171,60 miliar setahun sebelumnya.

Perbaikan signifikan juga terlihat pada arus kas. Kas bersih dari aktivitas operasi mencapai positif Rp1,72 triliun, berbalik dari negatif Rp612,05 miliar pada semester I 2025.
 
Baca Juga: Benteng Pengawasan Aceh: Kanwil Bea Cukai Aceh Bumi Hanguskan Barang Ilegal Rp1,8 Miliar

Manajemen Soroti Perubahan Aturan Pasar

Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Prottireny, sebelumnya menyatakan penurunan harga saham belum mencerminkan perkembangan fundamental perusahaan.

“Penurunan harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50,” kata Audrey dalam keterangan resmi yang dikutip EmitenNews.

Sementara itu, Aditya Prayoga dari Phintraco Sekuritas menilai pasar membutuhkan waktu untuk menyesuaikan harga setelah batas Rp50 dibuka.

“Pergerakan dalam beberapa hari pertama ini tidak bisa langsung disimpulkan sebagai perubahan pada prospek bisnis GoTo,” ujar Aditya, sebagaimana dikutip media tersebut.

Menurut Aditya, terbukanya batas harga memungkinkan proses pembentukan harga berlangsung lebih jelas melalui penawaran jual dan beli. Namun, volatilitas masih dapat terjadi sampai pasar menemukan keseimbangan baru.
 
Baca Juga: Bea Cukai Langsa dan Polres Tumpas Narkoba Malaysia, 46,6 Kilogram Sabu Disita

Pertumbuhan Pinjaman Diikuti Kenaikan Beban

Meski kinerja membaik, laporan keuangan juga menunjukkan sejumlah beban yang meningkat.

Pendapatan pinjaman tumbuh sekitar 64,7 persen menjadi Rp2,70 triliun. Pada saat bersamaan, beban penurunan nilai piutang pembiayaan dan pinjaman naik lebih cepat, sekitar 78,9 persen, menjadi Rp691,39 miliar.

Biaya keuangan juga meningkat menjadi Rp388,30 miliar dari Rp240,53 miliar. Di luar usaha, perseroan mencatat keuntungan kurs bersih Rp315,14 miliar, tetapi terdapat penyesuaian nilai wajar instrumen keuangan negatif Rp328,10 miliar.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa perbaikan laba berjalan bersama pertumbuhan biaya dan risiko pembiayaan. Namun, laporan keuangan itu sendiri belum menjelaskan penyebab tekanan jual saham pada akhir September hingga awal Oktober.

Hingga penutupan perdagangan Kamis, perbaikan kinerja semester pertama tersebut belum mampu menahan gempuran di pasar modal. GOTO masih berada di Rp28, atau Rp22 lebih rendah daripada posisi Rp50 sebelum perubahan batas minimum perdagangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini