SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat ekonomi syariah. Bukan hanya pasar Muslim yang luas, tetapi juga ditopang sekitar 64 juta pelaku UMKM dan 42 ribu pondok pesantren dengan hampir 3 juta santri.
Deputy Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Ridzky Prihadi Tjahyanto, menyebut dua kekuatan tersebut memiliki peran strategis dalam mendorong pemberdayaan ekonomi sekaligus memperkuat ekosistem usaha syariah.
“Jadi berbicara mengenai pemberdayaan usaha tentu tidak terlepas dari peran UMKM,” ujar Ridzky dalam Talk Show FESyar Regional Jawa 2026 bertema Penguatan Model Bisnis dan Linkage Usaha Syariah di Grand City Surabaya, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Ridzky, peluang ekonomi syariah semakin besar seiring pertumbuhan industri halal dunia. Mengacu Global Islamic Economy Report 2025-2026, terdapat sejumlah sektor utama yang menjadi penggerak, mulai dari makanan halal, modest fashion, pariwisata ramah muslim hingga media dan rekreasi.
Berbagai sektor tersebut juga terlihat dalam FESyar Jawa 2026 melalui kehadiran UMKM, produk fashion, halal food dan halal lifestyle.
Potensi Global Tembus US$2,6 Triliun
Ridzky mengungkapkan, potensi ekonomi syariah global diperkirakan mencapai US$2,6 triliun pada 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$3,56 triliun pada 2029.
Indonesia, lanjutnya, memiliki posisi strategis. Dalam Global Islamic Economy Indicator, Indonesia berada di peringkat keempat. Bahkan pada sektor modest fashion Indonesia berada di posisi pertama, pariwisata ramah muslim peringkat kedua dan makanan halal peringkat ketiga.
“Ini sebuah pencapaian yang sangat membanggakan, tapi kita tidak boleh terlena. Kita harus terus berusaha untuk meningkatkan ekonomi syariah di Indonesia,” tegasnya.
Besarnya potensi juga tercermin dari kontribusi UMKM terhadap perekonomian. Ridzky menyebut UMKM berkontribusi sekitar 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara sekitar 15,7 persen telah berorientasi ekspor.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan ruang pengembangan yang masih sangat besar, khususnya jika UMKM diperkuat dari sisi kapasitas usaha, jaringan dan akses pasar.
Pesantren Ikut Didorong Jadi Pusat Kewirausahaan
Selain UMKM, pesantren dinilai memiliki potensi besar sebagai bagian dari ekosistem ekonomi syariah. Dengan puluhan ribu pesantren dan jutaan santri, sektor ini dapat dikembangkan tidak hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang tumbuh kewirausahaan.
Karena itu, BI mendorong penguatan kapasitas pelaku usaha sekaligus membangun jejaring dan akses pasar agar produk UMKM dan usaha berbasis pesantren mampu berkembang lebih luas.
“Kami berharap melalui forum ini sebagai titik tolak untuk memperkuat UMKM, motor ekonomi, pemberdayaan ekonomi pondok pesantren, berbagai pusat kewirausahaan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Ridzky.
Dengan potensi pasar domestik yang besar dan peluang industri halal global yang terus berkembang, penguatan UMKM dan pesantren menjadi salah satu kunci untuk mendorong ekonomi syariah Indonesia tidak hanya tumbuh di dalam negeri, tetapi juga semakin kompetitif di pasar global. ***