Hal itu senada dengan pernyataan Khoirul (38) warga Dusun Sranten, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam.
“Dulu mandi dan cuci di kali (sungai red), sekarang tidak bisa karena ada limbah kotoran sapi perah,” kata Khoirul.
Dia mengatakan, bau menyengat dan keruhnya sungai berada di jam tertentu saat para peternak melakukan pembuangan kotoran hewan ternaknya. Seringnya pada pagi dan sore hari.
“Baunya kemana-mana, baunya itu kalau di pagi hari sama sore hari, banyak yang protes tapi gak ditanggapi sama sekali,” keluhnya.
Bahkan, Khoirul dengan berbagai keterbatasan berusaha memberitahukan persoalan ini ke Pemerintah Kabupaten Jombang, dia mengaku pernah melakukan DM ke akun IG Pemkab Jombang berupa mengirimkan video pencemaran limbah kotoran di sungai. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil.
“Sempat mengirim video ke akun Instagram (IG) Pemkab Jombang bukti sungai yang tercemar limbah tapi tidak ditanggapi,” ujarnya.
Saat ini warga butuh solusi, tidak merugikan peternak dan tidak merugikan masyarakat sekitar. Bahkan pihaknya akan melakukan aksi demo jika perdoalan ini belum juga diberikan solusi.
“Kita carikan solusi, bisa nanti demo untuk menyampaikan aspirasi,” tegas dia.
Baca Juga: DLH Pemkab Rokan Hulu Tindaklanjuti Laporan Diduga Bocoran Limbah Cair PMKS PT.SJI Coy Kepenuhan.
Biar peternak tidak dirugikan, ia berharap ada Induk Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang difasilitasi Pemkab dalam pemdampingan pembuatannya.
“Kita minta ada IPAL biar tidak dibuang ke sungai, kotoran sapi sama kencingnya itu,” harapnya.
“Ada lima desa yang terdampak, ini sudah berjalan sekitar 3 sampai 4 tahun belum ada solusi,” tandasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Sugiat Kepala Desa Panglungan mengaku belum ada warga yang lapor ke Pemdes terkait persoalan ini. “Kalau melapor secara resmi ke Pemdes belum,” kata dia saat ditemui wartawan, Kamis (22/8/2024).