NAWACITAPOST.COM - Bertemu ratusan bunda Pos PAUD Terpadu (PPT), anggota Komisi D DPRD Surabaya, Dyah Katarina menyatakan bahwa Kondisi PPT di kota Surabaya sedang tidak baik-baik saja.
Pernyataan ini disampaikan Legislator PDI Perjuangan ini saat agenda reses jaring aspirasi kepada Paguyuban bunda Paud se kecamatan Sukomanunggal, Sabtu (20/1/2024) di Surabaya.
Mendasari pernyataannya, yang pertama adalah salah kaprah jika bunda Paud dianggap sebagai guru. Padahal kata dyah, tugas seorang bunda PPT itu dari awalnya hanya mengumpulkan anak-anak usia dini, kemudian bunda-bunda Paud dilatih untuk melakukan deteksi tumbuh kembang anak dan bagaimana cara memberikan pola asuh yang benar.
Baca Juga: Anas Karno Tekankan Pentingnya Skill dari Perguruan Tinggi untuk Ekonomi Warga Surabaya
"Saat itu PKK Surabaya berupaya untuk memberikan pengetahuan kepada para ibu dari anak usia dini melalui bunda Paud, simpel tugasnya," sebut mantan ketua TP-PKK Kota Surabaya selama 13 tahun ini.
"Waktunya pemberian vitamin ya bunda Paud mengingatkan, waktunya Posyandu ya bunda-bunda ikut menggiring, tumbuh kembang anak dan BKB (Bina Keluarga Balita) itu saja," tambahnya.
Sebenarnya kata Dyah, laporan seperti Dapodik (Data Pokok Pendidikan), tidak perlu dilakukan seorang bunda PPT.
Baca Juga: Dyah Katarina: Reses Bukan Ajang Kampanye, Tapi Kulakan Aspirasi Warga!
Kemudian, apakah jika cuma ada ada tiga anak, PPT nya harus tutup? Atau jika bunda sudah berusia 60 tahun harus keluar dari PPT?
"Nah, aturan sekarang seperti apa?" tanya Dyah istri mantan Wali kota Surabaya periode 2002-2009 itu.
Seorang bunda PPT itu terpilih dan terpanggil, kalau pengabdian di masyarakat itu semestinya tidak ada pensiunnya.
Baca Juga: Dyah Katarina: Pos PAUD Terpadu sedang 'Diuji'
"Aneh jadinya, jika bunda PPT berusia 60 tahun harus pensiun, tapi ada program lansia bahagia?" tanyanya.
Terkait kondisi yang semakin melenceng dari proses kelahiran Pos Paud Terpadu ini, secara pribadi Dyah mengaku ingin mengembalikan PPT ini ke kitohnya.