Jumat, 5 Juni 2026

Festival Apem Kembali di Gelar, Wujud Menjaga Warisan Budaya Leluhur

Photo Author
Sitinjak, Nawacita Post
- Senin, 26 September 2022 | 07:44 WIB

Majalengka, NAWACITAPOST.COM - Festival berbasis tradisi kembali digelar sebagai wujud menjaga tradisi Budaya para leluhur masyarakat di Kabupaten Majalengka. Tepatnya Festival Apem yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bantarwaru Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka tepatnya di Blok Minggu.

Tahun ini, gelaran tersebut memasuki tahun ke tiga, sejak dimulai pada 2020 lalu. Festival Apem sendiri, dalam tiga tahun terakhir ini rutin dilaksanakan setiap bulan Safar, bulan ke dua dalam hitungan tahun Islam atau Hijriah.

Dibanding tahun lalu, festival Apem tahun ini terdapat beberapa beberapa. Keterlibatan kalangan sekolah, jadi salah satu perbedaan festival Apem pada tahun sebelumnya.

Hal itu disampaikan oleh Panitia festival Apem, Nina menyebutkan bahwa pada kesempatan itu pelaksanaan melibatkan anak sekolah sebagai wujud regenerasi dalam menjaga tradisi.

Bukan hanya diisi dengan pembuatan apem sendiri, panitia pelaksana juga menggelar berbagai macam perlombaan. Diantaranya ialah lomba menulis tentang tradisi.

"Ada keterlibatan dari anak-anak sekolah, khususnya SMA. Jadi, sebelum hari H, kami menyebarkan pengumuman lomba tulis untuk siswa SMA," ujar Nina disela kegiatan, Minggu (25/09/2022).

Dalam lomba tulis itu, panitia lebih memfokuskan pada tradisi di sekitar, baik yang sudah punah maupun masih dilestarikan.

"Bebas, mau cerpen, opini atau bahkan reportase. Yang pasti, titik fokusnya pada Tradisi itu," ucapnya.

Bagi karya peserta yang dianggap terbaik, dibacakan oleh tokoh, baik budayawan, seniman ataupun kalangan lainnya.

Pada kesempatan tersebut, salah satu karya terbaik peserta secara langsung dibacakan oleh Ketua Dewan Kesenian Majalengka (Dekma) yakni sebuah karya Cerpen, dengan alur yang bercerita tradisi Apem.

"Di sana juga bercerita tentang Rebo Wekasan, tentang 320 ribu bala yang diturunkan di hari itu. Ini salah satu referensi untuk memperkaya pengetahuan kita terkait Bulan Safar dan Apem nya," ungkapnya.

Ditempat yang sama, Kepala Desa Bantarwaru Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka Aziz Jufri mengatakan bahwa pada Festival tahun ini, masyarakat umum diberi kesempatan untuk membuat sendiri kue khas bulan Safar itu. Hal itu berbeda dengan tahun sebelumnya, ketika pengunjung hanya dipersilakan untuk menikmati saja.

"Mengajak untuk lebih mengenal lagi, setidaknya tahu bagaimana proses memasak kue Apem itu. Karena kan, ada beberapa perbedaan dengan bikin jenis kue lainnya," ucap Kepala Desa.

Berkenaan dengan dilibatkannya kaum millenial pada kegiatan tersebut, Aziz menjelaskan pihaknya berharap para kader muda kedepannya mampu menjadi penopang utama dari keberlangsungan tradisi apem yang dilaksanakan satu tahun sekali itu.

"Saya berharap para generasi muda bisa menjadi penerus dan mau menjaga tradisi dari budaya apem ini. Sehingga kita tidak kehilangan jati diri bahwa di Desa ini memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang harus tetap di lestarikan," tandasnya.

Acara festival Apem di desa sendiri diisi dengan doa bersama, hiburan seni tari, belajar menggambar, dan bincang-bincang tentang tradisi, serta potensi ke depan.

Editor: Sitinjak

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini