Sebab, keberhasilan transportasi publik tidak cukup diukur dari besarnya anggaran, banyaknya kendaraan yang dibeli, atau tingginya angka pengguna secara kumulatif.
Ukuran sesungguhnya adalah seberapa mudah warga mendapatkan angkutan umum, seberapa luas wilayah yang terjangkau, seberapa singkat waktu tunggu, serta seberapa konsisten kualitas pelayanannya.
Jangan sampai anggaran bertambah, tetapi warga masih harus menunggu lama, kesulitan mendapatkan feeder, atau tetap bergantung pada kendaraan pribadi karena rute transportasi umum belum menjangkau kebutuhan perjalanan mereka.
Jika target 11 rute utama dan 30 feeder sudah direncanakan sejak bertahun-tahun lalu, pertanyaan mendasarnya sederhana: sampai kapan masyarakat harus menunggu agar transportasi publik Surabaya benar-benar menjadi pilihan utama, bukan sekadar janji dalam dokumen perencanaan? ***