Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Reni juga menyoroti penataan status kepegawaian guru, khususnya guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Ia menyampaikan bahwa kebijakan mengenai guru PPPK paruh waktu, peluang mengikuti seleksi CPNS bagi PPPK penuh waktu, serta pembukaan kesempatan bagi lulusan baru perlu dipahami sesuai ketentuan pemerintah yang berlaku.
Reni turut menekankan pentingnya perhatian terhadap guru honorer yang belum masuk dalam basis data kepegawaian. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dicermati agar penataan tenaga pendidik tidak mengabaikan kebutuhan sekolah maupun nasib para guru.
Ia berharap pemenuhan tenaga pendidik dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, sehingga sekolah memiliki kepastian dalam mengatur pembelajaran dan guru dapat bekerja dengan dukungan yang memadai.
Guru Perlu Dilindungi Saat Menjalankan Tugas
Selain kekurangan tenaga pendidik, Reni menyoroti pentingnya perlindungan terhadap guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Ia mengingatkan bahwa guru memiliki tanggung jawab mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan siswa, tetapi pelaksanaan tugas tersebut juga perlu didukung mekanisme perlindungan yang jelas.
Menurutnya, guru jangan sampai merasa takut menjalankan tugas mendidik karena khawatir menghadapi persoalan hukum ketika mendisiplinkan siswa.
Perlindungan tersebut, tentu saja, perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak anak dan penerapan disiplin yang sesuai aturan. Sekolah membutuhkan lingkungan yang aman bagi siswa sekaligus memberikan ruang bagi guru untuk menjalankan tanggung jawab profesionalnya.
Dengan demikian, penyelesaian persoalan pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada siswa. Kesejahteraan, kepastian status, beban kerja, dan perlindungan tenaga pendidik juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas.
Jangan Sampai Anak Surabaya Hanya Menjadi Penonton
Dalam kesempatan tersebut, Reni juga mengingatkan para siswa agar berani memasang cita-cita tinggi dan mempersiapkan diri sejak bangku sekolah menengah pertama.
Surabaya memiliki sejumlah perguruan tinggi unggulan, seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPN Veteran Jatim).
Menurut Reni, keberadaan kampus-kampus tersebut harus menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak Surabaya untuk melanjutkan pendidikan, bukan sekadar menjadi tempat yang mereka lihat dari kejauhan.
Ia mengingatkan bahwa banyak mahasiswa yang datang ke Surabaya dari berbagai daerah. Karena itu, siswa setempat juga harus memiliki semangat dan kesempatan untuk bersaing meraih pendidikan tinggi.
“Jangan sampai anak-anak Surabaya hanya menjadi penonton. Mereka harus punya semangat belajar sejak sekarang, supaya kelak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke kampus-kampus unggulan,” menjadi pesan yang ditekankan Reni.