SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Persoalan tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di sejumlah apartemen Surabaya kembali menjadi sorotan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah enam apartemen yang berada di bawah Group Puncak. Berdasarkan data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Surabaya yang diberitakan pada Februari 2025, total tunggakan PBB tahun 2024 dari enam apartemen tersebut mencapai Rp18,7 miliar.
Tak berhenti di sana. Untuk ketetapan PBB tahun 2025, total kewajiban keenam apartemen tersebut tercatat mencapai sekitar Rp12,9 miliar.
Enam apartemen yang dimaksud adalah Puncak CBD, Puncak MERR, Puncak Kertajaya, Puncak Dharmahusada, Puncak Bukit Golf, dan Puncak Permai. Daftar tersebut juga tercantum dalam situs resmi Group Puncak yang menyebut enam proyek apartemen serta satu pasar sebagai proyek yang telah dikembangkan di Surabaya.
Puncak Bukit Golf: Tunggakan Tembus Rp5 Miliar
Dari enam apartemen tersebut, Puncak Bukit Golf menjadi salah satu yang secara terbuka mencuat dengan nilai tunggakan paling besar.
Berdasarkan data Bapenda Surabaya yang dikutip sejumlah media, Puncak Bukit Golf memiliki kewajiban PBB sekitar Rp5,013 miliar.
Angka tersebut terdiri dari ketetapan PBB 2025 sebesar sekitar Rp2,804 miliar dan tunggakan pokok sampai dengan 2024 sekitar Rp2,209 miliar.
Besarnya angka tersebut bahkan mendorong pimpinan DPRD Surabaya melakukan inspeksi mendadak ke Apartemen Puncak Bukit Golf pada Februari 2025.
Pertanyaannya kemudian: jika satu apartemen saja memiliki kewajiban lebih dari Rp5 miliar, berapa sebenarnya kontribusi dan tunggakan seluruh proyek Group Puncak terhadap kas daerah?
Bukan Hanya Satu Apartemen
Persoalan ini menjadi lebih besar karena tunggakan tersebut tidak hanya tercatat pada Puncak Bukit Golf.
Data yang diberitakan pada Februari 2025 menyebut enam apartemen Group Puncak secara keseluruhan memiliki tunggakan PBB 2024 sebesar Rp18,7 miliar, sedangkan kewajiban PBB tahun 2025 mencapai Rp12,9 miliar.
Dengan demikian, nilai yang menjadi perhatian bukan sekadar satu objek pajak, melainkan akumulasi kewajiban dari sejumlah properti besar yang tersebar di berbagai kawasan Surabaya.
Namun, data publik yang tersedia belum merinci peringkat tunggakan masing-masing dari keenam apartemen tersebut.
Artinya, publik belum dapat memastikan apakah Puncak Bukit Golf merupakan penunggak terbesar di antara enam proyek tersebut atau masih ada apartemen Group Puncak lain yang memiliki tunggakan lebih tinggi.