SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Wakil Wali Kota Surabaya Armuji turun langsung mengecek dugaan pelecehan seksual verbal yang dialami seorang pengemudi ojek online (ojol) oleh sejumlah juru parkir (jukir) di kawasan Jalan Kaca Piring, Surabaya.
Armuji mendatangi salah satu restoran yang disebut menjadi lokasi kejadian sekaligus mempertemukan korban berinisial YGL (30) dengan salah satu jukir yang diduga terlibat, Doni, Rabu (19/8/2026).
YGL mengaku telah mengalami pelecehan verbal selama lebih dari setahun. Setiap mengambil pesanan makanan di kawasan tersebut, ia mengaku kerap disoraki, diminta membuka celana hingga menunjukkan alat kelamin.
“Setiap kali saya ambil orderan di sana selalu disoraki suruh lepas celana saya, disuruh nunjukkan alat kelamin saya,” ungkap YGL, Selasa (18/8/2026).
Menurut YGL, perlakuan tersebut bahkan pernah berujung pada tindakan memaksa dirinya menurunkan celana. Namun, setelah celana diturunkan, ejekan dari para jukir disebut tetap berlanjut.
“Sampai akhirnya saya turunkan (celana), malahan mereka enggak berhenti,” katanya.
Tak hanya pelecehan seksual verbal, YGL juga mengaku beberapa kali mendapat ucapan bernada rasis karena dirinya merupakan warga keturunan Tionghoa.
YGL mengaku sudah berusaha melawan dengan menegur dan mengancam akan melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Namun, ia menyebut tindakan para jukir kembali terjadi ketika dirinya datang mengambil pesanan.
“Saya teriak ‘diam kamu, tak laporkan polisi loh ya’. Kadang begitu mereka langsung diam,” ujarnya.
Karena merasa tidak nyaman, YGL sempat menghindari mengambil pesanan dari sejumlah titik di kawasan tersebut. Namun, kondisi order yang sepi membuatnya tetap harus datang ketika mendapatkan pesanan dari pelanggan.
Menanggapi laporan tersebut, Armuji mempertemukan kedua pihak untuk mencari penyelesaian. Menurut Armuji, pihak jukir mengakui adanya ucapan yang dilontarkan kepada YGL, tetapi menganggapnya sebagai candaan.
“Ya, jadi kan namanya orang itu laporan ke tempat saya. Ya pasti saya tidak diam. Bukan kita itu mencari-cari salah benarnya orang. Makanya kita datangkan kedua belah pihak,” kata Armuji.
Armuji kemudian memberikan teguran agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Ia meminta jukir tidak menjadikan tindakan yang menyangkut tubuh, seksual, ras, maupun martabat seseorang sebagai bahan candaan.
“Makanya dengan hal semacam ini jangan sampai terulang lagi. Saya sudah bilang, wis kon nggak usah ajak guyon sing macem-macem. Nek engko dadi salah tompoh maneh,” tegasnya.