Karena jika program kampung hanya ramai ketika ada launching, foto bersama dan pemberitaan, lalu sunyi setelah rombongan pejabat pulang, maka yang dibangun bukan gerakan masyarakat.
Yang dibangun hanyalah seremoni.
Jangan Sampai Kota Pahlawan Menjadi "Kota Papan Nama"
Surabaya tidak kekurangan program. Tidak kekurangan jargon. Tidak kekurangan penghargaan. Tidak kekurangan papan nama. Yang harus dipastikan adalah kesinambungan.
Kampung Madani jangan hilang. Kampung Cerdas jangan mati. Kampung Pancasila jangan berhenti sebagai legacy politik.
Budaya jangan hanya menjadi materi festival. Kejuangan jangan hanya menjadi materi pidato. Dan kepahlawanan jangan hanya muncul setiap 10 November. Sebab Kota Pahlawan bukan kota yang setiap tahun mengulang cerita tentang 1945.
Kota Pahlawan adalah kota yang mampu membuat semangat 1945 tetap relevan pada 2026.
Itulah ujian sebenarnya bagi Eri Cahyadi. Bukan apakah ia mampu membuat Surabaya terlihat modern.
Tetapi apakah ia mampu membuat Surabaya tetap menjadi Surabaya. Kota yang rakyatnya berani. Kampungnya hidup. Warganya guyub.
Budayanya tumbuh. Pemudanya bergerak. RT/RW-nya tidak takut berinisiatif. Dan pemerintahnya tidak sibuk mengambil alih seluruh ruang masyarakat.
Sebab ada satu ironi yang harus dihindari pada usia 81 tahun Indonesia merdeka:
Jangan sampai Surabaya memiliki Tugu Pahlawan yang tinggi, tetapi semangat kepahlawanannya semakin pendek.
Jangan sampai Perda tentang kejuangan dan kepahlawanan masih berputar di meja pembahasan ketika nilai kejuangan justru perlahan menghilang dari kampung.
Dan jangan sampai Kampung Pancasila hanya menjadi nama program ketika Pancasila sendiri kehilangan praktiknya dalam kehidupan warga.
Surabaya boleh menjadi kota dunia.
Tetapi jangan lupa: sebelum bermimpi menjadi kota dunia, Surabaya harus tetap menjadi Kota Pahlawan.