Minggu, 16 Agustus 2026

HUT RI ke-81: Surabaya Kota Pahlawan, Tapi Roh Kepahlawanannya di Mana?

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:42 WIB
Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi

Tujuannya terdengar mulia.

Menghidupkan kembali nilai Pancasila, Memperkuat gotong royong.

Mendata warga miskin, anak putus sekolah, ibu hamil risiko tinggi hingga pengangguran terbuka.

Itu bahkan disebut secara eksplisit oleh Eri ketika menjalankan program Kampung Pancasila.

Tetapi program sebesar itu harus mempunyai ukuran keberhasilan yang jelas. Bukan hanya berapa RW yang ditetapkan, Bukan berapa banyak launching, Bukan berapa papan nama dipasang, Bukan berapa ASN yang ditunjuk menjadi pendamping.

Melainkan: Apakah warga benar-benar semakin guyub? Apakah kemiskinan di kampung turun? Apakah anak putus sekolah berkurang? Apakah pengangguran terserap? Apakah kegiatan pemuda tumbuh? Apakah budaya lokal hidup? Apakah warga semakin mandiri?

Jika jawabannya belum terlihat secara signifikan, maka Kampung Pancasila harus dievaluasi.

Apalagi pada April 2026 Pemkot kembali meluncurkan Program Kampung Pancasila dan bahkan menempatkan dua sampai tiga ASN sebagai pendamping di setiap RW sesuai jumlah penduduk.

Ini justru membuka pertanyaan baru:

Kalau Kampung Pancasila memang lahir dari kesadaran warga, mengapa harus terus dikawal birokrasi?

Jangan sampai Pancasila menjadi proyek administratif. Karena Pancasila seharusnya hidup dalam perilaku masyarakat, bukan hanya dalam SK, papan nama dan laporan kegiatan.

Lalu Ke Mana Raperda Kampung Cerdas?

Kritik serupa juga layak diarahkan pada gagasan Raperda Kampung Cerdas. Jika konsep kampung cerdas berhenti dalam proses politik dan tidak jelas kelanjutannya, publik tentu berhak bertanya.

Apalagi jika muncul anggapan bahwa program tersebut berpotensi mengganggu branding Kampung Pancasila. Kalau benar demikian, justru semakin ironis.

Mengapa program pembangunan masyarakat harus saling berebut panggung?

Kampung Cerdas seharusnya tidak harus menjadi lawan Kampung Pancasila. Kampung Madani juga tidak harus dibunuh demi Kampung Pancasila. Green and Clean tidak harus dianggap masa lalu. Surabaya Smart City tidak harus dihapus dari ingatan. Semua bisa disatukan dalam satu ekosistem besar:

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini