NAWACITAPOST.COM — Di tengah badai tudingan miring yang mencoba meruntuhkan kredibilitas institusi, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, akhirnya memecah keheningan.
Menanggapi narasi liar terkait dugaan gratifikasi dan "main mata" dalam pengadaan alat kesehatan, pihak rumah sakit meluncurkan klarifikasi tajam yang menegaskan bahwa seluruh proses tersebut bukanlah hasil kesepakatan di ruang gelap, melainkan manifestasi dari kepatuhan mutlak terhadap hukum negara.
Benteng Transparansi di Balik E-Katalog Inaproc
Direktur RSUD Teluk Pucung, dr. Laila Nauvalya, tampil dengan nada bicara yang tenang namun sarat ketegasan saat ditemui pada Kamis (16/4/2026). Ia menepis seluruh spekulasi yang beredar dengan memaparkan bukti-bukti prosedural yang tak terbantahkan.
"Kami tidak beroperasi di luar radar. Seluruh pengadaan ini dilakukan melalui e-katalog Inaproc, sebuah sistem nasional yang dirancang khusus untuk menutup celah kecurangan. Tidak ada ruang bagi praktik kongkalikong yang dituduhkan itu," tegas direktur yang akrab disapa Laila.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan sebuah alat medis hingga sampai ke tangan pasien bukanlah proses instan yang penuh misteri. Proses ini dimulai dari perencanaan kebutuhan yang ketat, penyusunan spesifikasi teknis yang presisi, hingga evaluasi mendalam terhadap ketersediaan produk di pasar digital pemerintah.
Adu Kualitas, Bukan Adu 'Isi Amplop'
Laila mengungkap sebuah fakta krusial yang selama ini terabaikan oleh opini publik yakni Persaingan Sehat. Pada tahap pemilihan, RSUD tidak sekadar menunjuk satu vendor, melainkan melakukan komparasi ketat terhadap empat alat sejenis dari empat penyedia yang berbeda.
Baca Juga: Skandal IUP Tumpang Pitu, KPK Didesak Pegiat Anti Korupsi Usut Potensi Kerugian Negara
- Audit Harga: Memastikan nilai yang dibayarkan adalah harga kompetitif dan wajar.
- Efisiensi Anggaran: Menjamin setiap rupiah uang rakyat dikonversi menjadi fasilitas kesehatan yang bermutu tinggi.
- Akuntabilitas Digital: Seluruh rekam jejak pemilihan tersimpan secara permanen dalam sistem yang siap diaudit kapan saja oleh lembaga berwenang.
"Ini bukan soal selera pribadi atau kedekatan tertentu. Ini adalah kalkulasi matematis dan teknis demi memastikan publik mendapatkan yang terbaik tanpa pemborosan anggaran," tambahnya.
Misi Kemanusiaan di Balik Teknologi Ekokardiografi
Alat yang menjadi pusat kontroversi ini bukanlah barang mewah tanpa guna, melainkan Alat USG khusus jantung (Ekokardiografi). Teknologi non-invasif ini adalah napas bagi diagnosis penyakit kardiovaskular, yang memungkinkan dokter melihat denyut dan struktur jantung secara real-time demi menyelamatkan nyawa pasien.
Pihak rumah sakit menyayangkan jika polemik pengadaan ini justru mengaburkan urgensi keberadaan alat tersebut bagi masyarakat Teluk Pucung.
Artikel Terkait
Fokus Stabilkan Harga dan Pasokan, Bapanas Aktif Kelola Pangan Sejak 2022
Ditjen LIP Kementan RI Fokus Garap Irigasi Tersier, Koordinasi Sekunder dengan Kementerian PU
Kebutuhan Penyuluh Masih Tinggi, BPPSDM Kementan Fokus Kembangkan SDM Pertanian
Sambut PMB, Perguruan Tinggi Swasta Antusias Respons Kolaborasi Digital APTISI dan MNI
Pastikan Penggunaan Izin Tinggal WNA, Imigrasi Belawan Gelar Operasi Wirawaspada Serentak