Jumat, 5 Juni 2026

Meningkatnya Kasus Alergi Makanan di Kalangan Dewasa

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Kamis, 8 Agustus 2024 | 16:21 WIB
 dr. Deddy Hartanto, M.Imun, dipl.AAAM, dipl.CIBTAC (U.K.). Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
dr. Deddy Hartanto, M.Imun, dipl.AAAM, dipl.CIBTAC (U.K.). Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Sebuah meta-analisis mengenai prevalensi alergi makanan di Eropa menemukan prevalensi keseluruhan alergi makanan yang dilaporkan sendiri sebesar 5,9% dari tahun 2000 hingga 2012, meskipun banyak penelitian utama memiliki setidaknya potensi bias yang moderat.

Prevalensi alergi makanan semakin meningkat di seluruh dunia, terutama pada bayi dan anak-anak. Diperkirakan terjadi pada 2-10% populasi. Prevalensi alergi makanan pada orang dewasa belum diketahui secara pasti.

Alergi makanan pada orang dewasa mungkin mencerminkan alergi makanan yang menetap dari masa kanak-kanak atau sensitisasi baru terhadap alergen makanan setelah masa kanak-kanak. Prevalensi alergi makanan pada penduduk Indonesia belum diketahui secara pasti.

Data menemukan bahwa di antara 42 pasien dermatitis atopik terdapat sensitisasi terhadap putih telur (31%), susu sapi (23,8%), ayam (23,8%), kuning telur (21,4%), kacang-kacangan (21,4%), dan gandum (21,4%). Meski jarang terjadi, anafilaksis yang dipicu oleh alergen makanan pernah dilaporkan di Jakarta.

Patofisiologi

Alergi makanan pada orang dewasa dapat merupakan reaksi yang sudah terjadi saat kanak-kanak atau reaksi yang baru terjadi pada usia dewasa. Secara umum, patofisiologi alergi makanan dapat diperantarai oleh IgE maupun tidak diperantarai IgE.

Diperantarai IgE

Secara imunologis, antigen protein utuh masuk ke dalam sirkulasi dan disebarkan ke seluruh tubuh. Untuk mencegah respons imun terhadap semua makanan yang dicerna, diperlukan respons yang ditekan secara selektif yang disebut toleransi atau hiposensitisasi.

Kegagalan untuk melakukan toleransi oral ini memicu produksi berlebihan antibodi IgE yang spesifik terhadap epitop yang terdapat pada alergen makanan.

Antibodi tersebut berikatan kuat dengan reseptor IgE pada basofil dan sel mast, juga berikatan dengan kekuatan lebih rendah pada makrofag, monosit, limfosit, eosinofil, dan trombosit.

Ketika protein makanan melewati sawar mukosa, terikat dan bereaksi silang dengan antibodi tersebut, IgE yang telah berikatan dengan sel mast akan teraktivasi.

Kemudian, sel mast akan melepaskan berbagai mediator (histamin, prostaglandin, dan leukotrien) yang akan menyebabkan vasodilatasi, sekresi mukus, kontraksi otot polos, dan influks sel inflamasi lain sebagai bagian reaksi hipersensitivitas cepat.

Sel mast yang teraktivasi juga mengeluarkan berbagai sitokin lain yang dapat menginduksi reaksi tipe lambat. Selama 4-8 jam pertama, neutrofil dan eosinofil akan dikeluarkan ke tempat reaksi alergi.

Neutrofil dan eosinofil yang teraktivasi akan mengeluarkan berbagai mediator seperti platelet activating factor, peroksidase, eosinophil major basic protein, dan eosinophil cationic protein. Sedangkan pada 24-48 jam berikutnya, limfosit dan monosit menginfiltrasi lokasi tersebut dan memicu reaksi inflamasi kronik.

Belakangan ini, alergi makanan pada orang dewasa seringkali dihubungkan dengan sensitisasi alergen lain sebelumnya (terutama inhalan) yang berhubungan dengan jenis alergi lainnya.

Halaman:

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini