Oleh dr. Deddy Hartanto, M.Imun, dipl.AAAM, dipl.CIBTAC (U.K.). Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
NAWACITAPOST.COM - Makanan merupakan salah satu penyebab reaksi alergi yang berbahaya. Walaupun kejadian alergi makanan lebih sering ditemui pada anak-anak, penelitian terbaru melaporkan bahwa 1,4-6% populasi dewasa juga pernah mengalami alergi makanan. Prevalensi alergi pada perempuan dewasa lebih tinggi dibandingkan laki-laki dewasa.
Sebagian besar alergi makanan muncul pada masa kanak-kanak dan menghilang setelah usia 3 tahun, sementara alergi makanan yang baru muncul pada usia dewasa jarang terjadi.
Tidak semua reaksi makanan yang tidak diinginkan dapat disebut sebagai alergi makanan. Klasifikasi yang dikeluarkan oleh EAACI (European Association of Allergy and Clinical Immunology) membagi reaksi makanan yang tidak diinginkan menjadi reaksi toksik dan reaksi non-toksik.
Reaksi toksik disebabkan oleh iritan atau racun dalam makanan, seperti jamur, susu atau daging yang terkontaminasi, atau sisa pestisida dalam makanan. Reaksi non-toksik dapat berupa reaksi imunologis dan reaksi non-imunologis (intoleransi makanan).
Intoleransi makanan dapat disebabkan oleh zat yang terdapat pada makanan tersebut (seperti histamin pada ikan yang diawetkan), farmakologi makanan (seperti tiramin pada keju), kelainan pada individu (seperti defisiensi laktosa), atau idiosinkrasi.
Alergi makanan adalah respons abnormal terhadap makanan yang diperantarai oleh reaksi imunologis. Sebagian besar keluhan akibat makanan termasuk intoleransi makanan, bukan alergi makanan.
Seperti alergen lain, alergi terhadap makanan dapat bermanifestasi pada satu atau berbagai organ target: kulit (urtikaria, angioedema, dermatitis atopik), saluran napas (rinitis, asma), saluran cerna (nyeri abdomen, muntah, diare), dan sistem kardiovaskular (syok anafilaktik). Pada perempuan, alergi makanan juga dapat menyebabkan kontraksi uterus.
Prevalensi alergi makanan di Amerika Serikat berkisar antara 1% hingga 10%, sebagian besar berdasarkan laporan diri atau laporan orang tua mengenai alergi.
Sebuah studi terbaru melaporkan bahwa survei berbasis populasi yang representatif secara nasional, The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), menemukan bahwa prevalensi alergi makanan yang dilaporkan sendiri pada anak-anak adalah sebesar 6,53% dari tahun 2007 hingga 2010.
Alergi makanan yang paling umum pada anak-anak adalah susu (1,94% dari anak yang disurvei), kacang tanah (1,16%), dan kerang (0,87%). Penelitian berbasis populasi di Amerika Serikat lainnya melaporkan perkiraan prevalensi alergi makanan pada masa kanak-kanak yang sedikit lebih tinggi (8%).
Di negara-negara maju lainnya, perkiraan prevalensi alergi makanan secara keseluruhan berada dalam kisaran perkiraan di Amerika Serikat.
Tingkat keseluruhan alergi makanan diperkirakan sebesar 6,7% di Kanada (7,1% untuk anak-anak dan 6,6% untuk orang dewasa) dalam studi laporan mandiri berbasis populasi yang menggunakan pengambilan sampel telepon secara acak. Susu sapi, kacang tanah, dan kacang pohon menjadi alergen paling umum pada anak-anak.
Artikel Terkait
Kucurkan Beasiswa ke-41 Mahasiswa Berprestasi, UWKS Tempatkan Pendidikan dan Prestasi Non-Akademik di Posisi Terdepan
KKN A2 UWKS: Edukasi Budidaya Kambing dan Pentingnya Olahraga di Gunung Anyar
Pengmas UWKS di Gunung Anyar: Fokus pada Gizi Seimbang untuk Cegah Stunting dan Maloklusi
Mengolah Nira Siwalan Menjadi Nata de Siwalan: Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK Desa Hendrosari Bersama Tim PKM-PM UWKS
Pengmas Dosen dan Mahasiswa UWKS di Watukosek: Edukasi Efektif Cegah Nyeri Neuropati pada Pasien Diabetes
FK UWKS Bersama Posyandu Lansia Nirmala dan Pondok Paliatif Wage Adakan Seminar Edukasi Kanker Usus Besar
Pengmas FK UWKS: Edukasi Pencegahan Karies untuk Siswa SDN Putat Jaya I/377 Surabaya
Pengmas FK UWKS Lakukan Screening Osteoarthritis di Posyandu Larasati Dukuh Kupang, Siapkan Terapi Injeksi