NAWACITAPOST.COM — Sebuah duka mendalam menyelimuti publik. Perjuangan hidup seorang balita berusia dua tahun berinisial MC harus berakhir tragis di tengah dinginnya malam lokasi pengungsian pascagempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mengungsi bersama keluarganya di tepian Bukit Puta sejak gempa mengguncang pada 15 Agustus 2026, kondisi kesehatan balita yang sebelumnya sehat bugar tersebut perlahan merosot akibat ketiadaan fasilitas mendasar seperti tenda, selimut, dan kelambu.
"Menurut Kementerian Kesehatan, kematian anak tersebut dikaitkan dengan paparan suhu dingin saat berada di lokasi pengungsian," tulis postingan Instagram @folkative, pada Senin, 24 Agustus 2026. Kejadian ini merobek hati masyarakat dan menyingkap ketatnya ancaman yang membayangi kelompok rentan di tenda darurat.
Kondisi minimnya bantuan persediaan di Desa Marapokot memicu penyakit serius pada MC. Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat dilarikan ke RS Aeramo lalu dirujuk ke RS Bajawa akibat demam tinggi yang berujung kejang.
"Anak ini jatuh sakit, sempat dirawat tapi akhirnya meninggal dunia," ungkap Afik dalam keterangannya, pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Kepergian balita malang ini meninggalkan rasa terpukul yang amat dalam bagi keluarga dan menuntut perhatian mendesak dari pemerintah.
"Anak ini sebelumnya sehat dan sangat segar. Ia sakit karena terpapar dingin di pengungsian. Itulah yang membuat saya sangat terpukul," ungkap Jack dalam penuturannya, pada Minggu, 23 Agustus 2026.
"Kami mohon bantuan segera. Ini situasi yang serius. Korban meninggal baru berusia dua tahun," jelas Jack.
Baca Juga: Amukan Api Cengkeram Way Kambas: Petugas Berjibaku Tembus Gambut Menghadapi Dugaan Sabotase
"Ia jatuh sakit hanya karena kondisi keterbatasan di atas bukit, tanpa kelambu dan tanpa tenda. Sebagai keluarga, saya berbicara dengan duka yang mendalam atas kepergian keponakan saya ini," tandasnya.(***)
Artikel Terkait
Lautan Manusia Padati Plaza Patriot, Wali Kota Bekasi Resmikan FORMASKOT 2026
Jeritan Pilu Bocah Dairi: Mengaku Disiksa Bibi Saat Ayah Dipenjara
Agus Sulistriyono: Idealisme Saja Tak Cukup Bayar Gaji, Bisnis Pers Harus Berubah
Lautan Api Ratakan Kampung Adat Sade Lombok, 129 Rumah Sasak Ludes
Skandal Penerimaan Maba Unsoed: KPK Bongkar Praktik Pemerasan Berkedok Jalur Mandiri