Kamis, 4 Juni 2026

Darimana gelar Habib?

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Minggu, 24 Mei 2020 | 18:07 WIB

Untuk merealisasikan program-program Rabithah Alawiyah, beberapa waktu kemudian didirikan al-Maktab al-Daimi, suatu lembaga yang khusus memelihara sejarah dan mencatat nasab As-Saadah Al-Alawiyyin. Maktab ini telah melakukan pencatatan di seluruh wilayah Hindia Belanda Raya. Pada tanggal 28 Januari 1940, jumlah Alawiyin yang tercatat oleh Maktab Daimi berjumlah 17.764 orang.


Diaspora Bani Muhajir gelombang I (Azmatkhan) dan gelombang II (Basyaiban) tidak masuk dalam pembukuan nasab ala Rabithah Alawiyah, mungkin karena Diaspora Gelombang I dan gelombang II dinilai sudah tidak murni lagi, terlalu banyak melakukan kawin campur dengan pribumi nusantara.


FENOMENA BARU NU.


Entah bagaimana asal mulanya, fenomena baru telah muncul di tubuh NU, beberapa pimpinan NU sudah tidak segan lagi adu argumentasi dengan kelompok diaspora gelombang terakhir atau biasa disebut Alawiyyin atau Ba'Alawy atau Habaib. Bisa kita lihat di Youtube bagaimana para pemimpin dan tokoh NU sejak KH Abdurrahman Wahid hingga KH Said Aqil Siradj kerap berbalas pantun dengan para Habaib, yang paling keras adalah adu argumentasi antara KH Abdurrahman Wahid (Bani Muhajir Gelombang I) dengan Habib Rizieq Shihab (Bani Muhajir Gelombang III).


HABIB NU dan HABIB FPI.


Pada tanggal 17 Agustus 1998 Habib Rizieq Shihab yang diduga mendapat back up penuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) mendirikan Front Pembela Islam yang selanjutnya disingkat FPI. Banyak Habaib yang bergabung dengan FPI. Begitu lahir FPI langsung menjadi salah satu organ Pam Swakarsa bentukan Panglima ABRI Jenderal Wiranto untuk mengamankan Sidang Istimewa MPR RI 1998. Sejarah mencatat bahwa Pam Swakarsa kemudian terlibat bentrok berdarah dengan elemen gerakan reformasi yang terkenal dengan tragedi semanggi I. Paska tragedi semanggi, FPI terus menerus terlibat dalam aksi kekerasan dan intoleran, yang menurut mereka merupakan Nahi Munkar.


Karena FPI terlihat berbeda style dengan NU, maka sebagian Habib memilih tetap aktif di NU, tidak ikut terlibat dalam FPI, dan sebagian habib lainnya memilih tidak aktif keduanya.


Habib yang aktif di NU antara Habib Luthfi Bin Yahya dan Habib Zein Bin Smith, beliau berdua ada di jajaran Mustasyar PBNU. Penampilan Habib-habib NU rata-rata lembut, tenang dan tidak berapi-api, mereka berlanggam moderat.


TITIK TEMU SEKALIGUS TITIK PISAH.


Titik temu antara Bani Muhajir Gelombang I, II dan III sebetulnya sangat kuat, yaitu titik temu genealogis, sesama keturunan Fathimah Az-zahra ra dan titik temu teologis, yaitu sama-sama menganut teologi Ahlussunah Wal Jamaah.


Namun kedua titik temu tersebut kemudian menjadi titik pisah karena para Bani Muhajir gelombang III memunculkan Thariqah Alawiyah dan FPI, sedangkan Bani Muhajir gelombang I dan II memunculkan Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah dan Islam Nusantara.


Kita ikuti saja perkembangannya, mereka sama-sama Bani Fathimah Az-zahra ra.


*) Penulis adalah PWNU dan PW IKA PMII Jatim

Halaman:

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini