Posisi tersebut memberi Eri ruang komunikasi yang lebih luas dengan kepala daerah lain dan pemerintah pusat.
Artinya, Eri tidak hanya mempunyai panggung Surabaya.
Ia juga mempunyai panggung antarkota.
Dalam politik, jaringan seperti ini tidak otomatis berubah menjadi suara pemilih. Tetapi ia dapat menjadi modal membangun jejaring dan citra sebagai kepala daerah yang mampu berbicara mengenai persoalan pemerintahan di luar wilayahnya sendiri.
Masalah terbesar Eri justru ada di luar Surabaya
Inilah yang harus disadari sejak sekarang.
Menang telak di Surabaya tidak berarti menang di Jawa Timur.
Surabaya memiliki karakter pemilih perkotaan yang berbeda dengan daerah-daerah lain. Jawa Timur juga memiliki struktur sosial-politik yang sangat kompleks, termasuk pengaruh pesantren, ulama, organisasi keagamaan, jaringan kultural, tokoh lokal, serta mesin partai.
Karena itu, jika Eri benar-benar ingin menuju Jatim 1, ia membutuhkan lebih dari sekadar popularitas.
Ia membutuhkan perluasan basis politik.
Dan perluasan itu harus dilakukan dengan hati-hati.
Jangan sampai terlalu cepat membangun citra sebagai calon gubernur justru membuat publik Surabaya menilai Eri meninggalkan pekerjaan rumah sebelum selesai.
Ini dilema politik yang serius.
Eri harus terlihat punya visi Jawa Timur, tetapi pada saat yang sama harus tetap terlihat fokus menyelesaikan mandatnya di Surabaya.
Skenario politik Eri
Setidaknya ada tiga skenario.
Pertama, Eri maju sebagai calon gubernur.