Jakarta, NAWACITAPOST.com – Sebelum masuk dalam substansi nama pasangan di Pilpres 2024. Sosok Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy biasa disapa Romi, punya insting atau instuisi politik yang tajam, khusunya soal Mahfud MD dan KH Ma’ruf Amin.
Baca Juga : Pilpres 2024, Capres Pilihan Rakyat Menurut Direktur Eksekutif CISA
Saat Pilpres 2014, PPP berada di kubu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Romi kala itu menjadi bagian penting dalam pengusungan pasangan itu. Romi pun mengatakan kepada Prabowo, Cawapresnya sudah terwakili dari Muhammadiyah, maka Ketua Tim Suksesnya harus mewakili Nahdatul Ulama (NU), maka Mahfud yang dipilih oleh Prabowo berdasarkan usulan Romi.
Lima Tahun berikutnya, yaitu Pilpres 2019. PPP berubah haluan mendukung Jokowi. Romi pun mengatakan kepada petahana Jokowi, yang mendampinginya harus usianya sudah tua, pertimbangannya selain untuk menangkal kedekatan Jokowi ke Ahok, juga wakilnya Jokowi ini, tidak punya ambisi sebagai Capres 2024. Jokowi memilih KH Ma’ruf Amin berdasarkan informasi Romi.
Kini Romi punya cerita, seperti diungkap dalam perbincangannya di acara Blak-Blakan Podcast Chanel Youtube 2045 TV, yang dipandu Singgih Sahid dan Mazdjo Pray yang tayang Rabu (19/4/2023), mengajak PKS untuk gabung dengan PDIP demi mengusung pasangan Ganjar Pranowo – Sandiaga Uno.
Ketua Umum PPP masa jabatan (20 Mei 2016 – 16 Maret 2019) punya alasan menyampaikan ke publik via podcast ini. Ganjar, jika tidak ada aral melintang adalah capres dari PDIP, dan untuk Cawapres biasanya Megawati sebagai Ketum PDIP menyerahkan ke partai yang mau bergabung. Kemungkinan PPP dan PKS memplot Sandi mendampingi Ganjar.
Kenapa Sandi? Romi berpendapat, itu merupakan rekonsiliasi institusi. Supaya, bangsa ini tidak terpecah, maka partai kadrun mengusung calon cebong. Apalagi Sandi dekat dengan PKS.
Katakanlah Ganjar – Sandi menang. Berarti ada portolio (penempatan) nama menteri di Kabinet dari 3 partai yang mengusung pasangan ini. hal itu wajar terjadi, dan sebuah keharusan.
Hal terkait lainnya, kata Romi dua nama yang disampaikan ini, setidaknya memenuhi 3 syarat. “Pertama Kontinuasi, bahwa apa yang baik di era Pak Jokowi akan diteruskan, nah dalam konteks ini, yang memiliki konteks ini, ya Pak Ganjar. Kedua Komplementasi, mana yang belum sempat dibikin atau masih kurang oleh Pak Jokowi, ditambah. Ketiga Rekonsiliasi, jadi bangsa ini tidak selamanya menjadi kadrun Vs cebong, ini akan dan harus berakhir,” pungkasnya.