Baca Juga : Arab Saudi Tegas Sebut HAMAS Kelompok Teroris Berbahaya
Di Palestina ada dua kelompok ; Fatah dan Hamas. Fatah perlahan dan zero enemy dengan Israel, sementara Hamas suka berkonflik menuju pertempuran dengan Israel.
Hamas atau Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah, yaitu Gerakan Pertahanan Islam, didirikan tahun 1987. Pemimpinnya Ismail Haniyeh ada yang menulis Haniya. Hamas adalah cabang dari Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir. Anehnya, Mesir mencap IM sebagai kelompok teroris.
Beberapa negara ; Arab Saudi, UEA Bahrain, Amerika Serikat, negara-negara Eropa melabeli Hamas sebagai teroris. Hamas memang hobinya bertempur dengan Israel. Pertempuran 10 Mei 2021, mungkin sudah ratusan kali dilakukan Hamas dengan Israel. Bagi Hamas, Israel harus dimusnahkan dan dilenyapkan.
Serangan roket awal Mei 2021, sebanyak 4000 roket ditembakan yang arahnya ke Israel, 12 warga sipil tewas. Sementara gempuran pesawat jet tempur Israel ke pihak Hamas (di jalur Gaza) 220 yang tewas, termasuk 75 militer Hamas.
Setelah 10 hari bertempur, kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata. Patut diduga pihak Hamas yang menawarkan gencatan senjata ke pihak Israel, itu jika dari tabiat Hamas yang hobinya bertempur.
Mungkin Hamas, roket dan asupan logistiknya habis dan terdesak segala jalur kepentingan umumnya, maka ditawarkanlah gencatan senjata ke negara yang dipimpin PM Benyamin Netanyahu.
Ternyata gencatan senjata, dimanfaatkan Hamas meminta Indonesia dengan menulis surat ke Presiden Jokowi, agar kantor perwakilannya ada di Indonesia. Kabarnya, Hamas telah bertemu dengan Fadli Zon dan PKS terkait meminta kantornya ada di Jakarta.
Kabarnya Hamas meminta kantor perwakilannya ada di Indonesia, sejak Desember 2014, dan Dubes Palestina saat itu, Fariz N Mehdawi, ketika ditanya media terkait itu, mengatakan itu abnormal, dan Din Syamsuddin mengaminkan pernyataan Mehdawi, bahwa Hamas tak perlu membuka kantor perwakilan di Jakarta, tegasnya.
Pertanyaannya, bukankah keterwakilan Hamas sudah ada melalui Kedubes Palestina di Jakarta, sebagai perwakilan resmi negara Palestina (Fatah dan Hamas).
Yang jelas, surat Hamas itu sudah sampai ke Jokowi. Jawaban Jokowi terkait ini akan mengacu kepada dua hal. Yaitu, pertama pihak Hamas sudah terwakili melalui Kedubes Palestina, kedua Hamas disebut Arab Saudi dan banyajk negara lainnya sebagai kelompok teroris.
Sikap Jokowi tegas, tak mau paham dan aksi-aksi radikal tumbuh subur di Indonesia. Buktinya, FPI dan HTI saja dibubarkan di erahnya. Jadi jangan berharap, mimpipun Hamas tak akan dizinkan buka kantor perwakilan di Jakarta.