NAWACITAPOST.COM – Ratusan peserta yang didominasi mahasiswa dan Generasi Z memadati acara bedah buku "Marhaenisme: Dalil Baru bagi Gen Z" di Surabaya. Diskusi yang menghadirkan penulis buku, Airlangga Pribadi Kusman, bersama pengamat politik Rocky Gerung, berlangsung dinamis dengan membahas relevansi ajaran Bung Karno dalam menghadapi tantangan zaman digital.
Sejumlah tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan turut hadir, mulai dari jajaran PAC, anggota Fraksi PDIP DPRD Surabaya, pengurus DPC PDIP Surabaya, hingga anggota DPR RI Indah Kurnia. Kehadiran para kader partai berpadu dengan antusiasme mahasiswa menjadikan forum ini sebagai ruang dialog lintas generasi mengenai masa depan gagasan Marhaenisme.
Penulis buku, Airlangga Pribadi Kusman, menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari kegelisahan atas persoalan global yang kini dihadapi Indonesia, mulai dari krisis ekologi, kapitalisme digital, korupsi, hingga persoalan meritokrasi.
"Marhaenisme bukan sekadar warisan masa lalu. Kami ingin menghadirkannya sebagai cara berpikir baru untuk menjawab persoalan dunia hari ini. Gen Z membutuhkan literatur yang mampu memberi arah perjuangan, bukan sekadar slogan," ujar Airlangga.
Menurutnya, buku tersebut sengaja ditulis menggunakan bahasa dan pendekatan yang dekat dengan Generasi Z.
"Kami berbicara tentang Marhaenisme melalui pop culture, film, hingga cerita-cerita yang akrab dengan anak muda. Marhaenisme harus dibaca, dipahami, dan diekstraksi menjadi cara berpikir, bukan dihafalkan sebagai doktrin," tegasnya.
Airlangga juga menilai ajaran Bung Karno justru semakin relevan di tengah situasi saat ini.
"Kalau diartikulasikan dengan akal sehat, Marhaenisme bahkan lebih relevan hari ini dibanding saat pertama kali dilahirkan. Persoalan rakyat berubah bentuk, tetapi substansinya tetap sama: ketimpangan, eksploitasi, dan hilangnya kedaulatan manusia atas hidupnya sendiri," katanya.
Sementara itu, Rocky Gerung menyoroti tantangan Generasi Z yang hidup di era media sosial. Menurutnya, media sosial hanyalah ruang kosong yang akan diisi oleh ideologi apa pun yang paling kuat.
"Media sosial itu ruang yang hampa ideologi. Karena itu, isi ruang itu dengan gagasan, bukan sekadar sensasi. Buku seperti ini harus menjadi bahan diskusi anak muda," ujar Rocky.
Menanggapi sindiran bahwa bedah buku Marhaenisme digelar di hotel berbintang, Rocky memberikan jawaban yang disambut tepuk tangan peserta.
"Ide bisa didiskusikan di hotel berbintang, di gorong-gorong, bahkan di media sosial. Yang menentukan bukan tempatnya, tetapi kualitas pikirannya. Marhaenisme adalah cara Bung Karno mengangkat pikiran dari gorong-gorong untuk sampai ke hotel berbintang," katanya.
Rocky juga menegaskan bahwa Marhaenisme merupakan gagasan asli Bung Karno yang lahir dari realitas rakyat Indonesia, bukan salinan ideologi asing.
"Bung Karno memahami Marxisme, tetapi beliau tidak menyalinnya mentah-mentah. Marhaenisme adalah temuan otentik Indonesia untuk melawan kolonialisme, imperialisme, dan ketidakadilan terhadap rakyat kecil," jelasnya.
Di akhir diskusi, Rocky menyampaikan pesan khusus kepada Generasi Z yang memenuhi ruangan. "Pesan saya sederhana. Hidup baik, 'Jangan Hidup Jokowi'. Bangun pikiran, bangun karakter, dan jadilah generasi yang berani memperjuangkan gagasan."