Senin, 8 Juni 2026

“Akhirnya Ada Kita di Sana”: Lompatan Politik Umbu Pajaru Lombu, Dari Menara Gading ke Jantung Hanura

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Senin, 8 Juni 2026 | 09:39 WIB

NAWACITAPOST.COM — Sebuah riak besar baru saja mengguncang panggung politik Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sabtu (6/6/2026) menjadi saksi bisu sebuah momentum krusial, saat menara gading akademisi runtuh dan menyatu dengan gemuruh suara rakyat jelata. Umbu Pajaru Lombu, S.H., M.H.—Dosen Hukum Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba sekaligus Panglima Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumba Timur—secara resmi melangkah masuk ke arena politik praktis. Ia kini resmi mengenakan jaket Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Bukan di hotel mewah atau gedung pertemuan megah, ikrar politik ini justru lahir dalam sebuah silaturahmi penuh kehangatan di kediaman Umbu Pajaru di Maubokul. Dihadiri langsung oleh Umbu Yadar Pilangira Ketua DPC Partai Hanura Sumba Timur dan Abdul Haris jajaran Fraksi Hanura DPRD Sumba Timur, pertemuan sederhana itu seketika berubah menjadi deklarasi harapan baru bagi masyarakat akar rumput.

“Akhirnya ada kita di sana.” > Sebuah kalimat sarat makna yang kini bergema di antara masyarakat adat, petani, dan warga kecil Sumba Timur.

Baca Juga: Ruang Kerja Jadi Saksi Bisu: Skandal Predator Seksual Eks Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Angkola Selatan Guncang Tapanuli Selatan!

Bukan Pencitraan, Tapi Rekam Jejak Berdarah-Daging

Yadar menegaskan bahwa keputusan merangkul Sang Dosen bukan sekadar taktik politik murahan demi mendulang popularitas. Hanura sedang mencari ideolog, seorang petarung yang tahu betul rasanya keringat rakyat di lapangan.

“Kami tidak sedang mencari figur yang hanya dikenal karena pencitraan yang dipoles. Kami mencari sosok yang memahami persoalan rakyat secara nyata," tegas Yadar.

Umbu Pajaru Lombu adalah anak daerah yang tumbuh bersama masyarakat. Ia yang paham perihnya krisis air bersih, peliknya konflik tanah ulayat, hingga sunyinya ruang keadilan bagi warga kecil yang kerap tak terdengar.

Selama bertahun-tahun, Umbu Pajaru memang bukan tipikal akademisi yang hanya duduk di balik meja ber-AC. Ia adalah benteng hukum bagi mereka yang termarginalkan. Melalui AMAN, ia konsisten mengadvokasi hak-hak masyarakat adat yang kerap tergilas roda modernisasi.

Menembus Batas Ruang Kuliah: Advokasi Berakar Rumput

Bagi masyarakat Sumba Timur, Umbu Pajaru adalah kombinasi langka antara intelektualitas dan empati. Kehadirannya di tengah-tengah konflik tanah atau edukasi hukum desa menumbuhkan kepercayaan yang masif.

Baca Juga: Bencana Jadi 'Proyek Bisnis', Dana Rp4 Miliar Diduga Lenyap di Padangsidimpuan!

  • Aktivisme Nyata: Pendampingan konflik tanah ulayat dan perlindungan hak kelompok rentan.

  • Edukasi Hukum Meluas: Membawa hukum keluar dari teks buku kuliah langsung ke ruang hidup masyarakat desa.

  • Suara yang Mewakili: Menjadi harapan baru bagi nelayan, petani, kaum perempuan, dan komunitas adat.

“Beliau tidak hanya berbicara teori di ruang kuliah, tetapi hadir secara fisik di tengah masyarakat. Itulah yang membuat rakyat menaruh kepercayaan besar kepada beliau,” tambahnya.

Amunisi Baru Hanura: Mengubah Advokasi Menjadi Kebijakan

Langkah berani Umbu Pajaru ini disambut hangat oleh Abdul Haris Fraksi Hanura DPRD Sumba Timur. Jalur politik dinilai sebagai 'senjata baru' yang jauh lebih efektif untuk mengeksekusi keadilan. Jika selama ini perjuangan dilakukan dari luar sistem melalui aksi advokasi, kini aspirasi itu akan ditembakkan langsung ke dalam jantung kebijakan publik.

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB