Rezim setelah rezim tampaknya lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan daripada kepentingan rakyat.
Maraknya korupsi, baik di level korporasi maupun individu, serta penganiayaan terhadap demokrasi menjadi gejala kronis yang merajalela.
Produk hukum dan kebijakan politik justru lebih sering digunakan untuk melindungi kepentingan partai dan golongannya daripada untuk kepentingan publik.
Penyakit kronis ini semakin meluas, menghancurkan nurani dan fisik dari pilar politik Indonesia.
Demokrasi dan institusinya nampak mati dan sekarat, bukan karena tidak tumbuh, melainkan karena sengaja dibunuh dan dibinasakan.
Dalam pandangan penulis, partai politik menjadi salah satu pelaku utama dalam degradasi kualitas politik Indonesia.
Dulu diharapkan sebagai wadah aspirasi rakyat dan penopang demokrasi, kini sebagian besar partai politik lebih mirip korporasi dan konglomerasi kapitalis.
Mereka telah kehilangan esensi sebagai institusi politik yang seharusnya menjadi agen perubahan dan inovasi ideologi.