pendidikan

Setahun Pascabencana, SMKN 1 Badiri Tapanuli Tengah Masih Berdarah-darah

Minggu, 8 November 2026 | 21:42 WIB
Kondisi SMKN 1 Badiri, Tapanuli Tengah, yang menurut unggahan akun Threads @thesecrettttt12 pada Sabtu, 7 November 2026, masih belum pulih setelah banjir. (Tangkapan layar Threads)
 
NAWACITAPOST.COM — Menjelang satu tahun tragedi banjir bandang yang meluluhlantakkan wilayah Sumatera, kondisi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih menyisakan keprihatinan mendalam.
 
Alih-alih pulih sepenuhnya, bangunan sekolah tersebut hingga kini masih dibayang-bayangi kerusakan parah.

Sorotan tajam ini kembali mencuat setelah sebuah unggahan dari akun Threads @thesecrettttt12 beredar luas pada Sabtu, 7 November 2026. Unggahan tersebut memperlihatkan potret memilukan dari ruang-ruang kelas yang belum tersentuh pemulihan total.
 
Baca Juga: Petaka Mengintai di Balik Terpal Atap Mobil Mudik: Toyota dan NHTSA Buka Suara

"SMK N 1 Badiri Tapanuli. Salah satu wilayah terdampak banjir Sumatera yg hingga detik ini masih belum pulih. Mereka sekolah masih dengan dinding & atap yg kalau diguyur hujan air masih tetap akan masuk," tulis akun tersebut.

Luka Lama dan Kelumpuhan Pendidikan

Sebelumnya, pada laporan tertanggal Jumat, 23 Januari 2026, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sumatera Utara mencatat bahwa aktivitas pendidikan di sekolah ini sempat lumpuh total.
 
Dahsyatnya bencana membuat bangunan sekolah tertimbun material tanah, memaksa sebanyak 646 siswa harus menjalani pembelajaran jarak jauh.

Dari lima gedung yang semula berdiri kokoh, kini hanya menyisakan satu bangunan. Ironisnya, fasilitas yang tersisa itu terlampau sempit dan tidak memadai untuk menampung seluruh kegiatan belajar mengajar secara optimal.
 
Baca Juga: Bukan Sekadar Jualan, Layanan Purnajual Jadi Ujian Krusial Ketahanan Mobil Listrik Indonesia
 
Guna meringankan beban, BPMP Sumatera Utara sempat menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah (school kits) serta dana operasional kebersihan melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana.

Menghadapi ancaman yang terus mengintai, Kepala SMKN 1 Badiri, Julpiner Simanungkalit, sempat merekomendasikan relokasi sekolah ke tempat yang lebih aman demi menjamin keselamatan jiwa para siswa dan tenaga pendidik.

Janji Pemerintah di Tengah Penantian Panjang

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan komitmennya untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi satuan pendidikan yang terdampak bencana di pulau Sumatera, sebagaimana tertuang dalam siaran pers resmi pada Kamis, 18 Juni 2026.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan komitmen pemerintah secara tegas, "Tidak boleh ada anak Indonesia yang kehilangan hak belajarnya karena terdampak bencana."
 
Baca Juga: Eksklusif! Menembus Kompleksitas Hukum Pajak, Iwan Djuniardi Jadi Andalan Suahasil Nazara

Berdasarkan data rekapitulasi per 9 Juni 2026, Kemendikdasmen mencatat ada 4.922 satuan pendidikan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana.
 
Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 sekolah dilaporkan masih harus menggunakan tenda dan 52 sekolah memanfaatkan ruang kelas darurat. Pemerintah sebelumnya menargetkan agar tidak ada lagi kegiatan belajar di dalam tenda pada tahun ajaran baru Juli 2026.

Kendati demikian, angka tersebut merupakan akumulasi data secara nasional dari berbagai wilayah terdampak, sehingga perkembangan nyata, progres pembangunan fisik, maupun kepastian relokasi khusus untuk SMKN 1 Badiri masih memerlukan konfirmasi dan keterangan resmi lanjutan dari pihak Pemerintah Daerah serta Kemendikdasmen.
 
Hingga kini, asa para siswa di ruang kelas yang bocor saat hujan terus dipertaruhkan demi secercah harapan masa depan.(***)

Tags

Terkini