NAWACITAPOST.COM — Kisah perjuangan keluarga sederhana mengiringi prestasi Shovi Akbar Maulana, siswa MAN 1 Pasuruan yang berhasil lolos dalam program Parlemen Remaja DPR RI.
Akbar menjadi satu-satunya pelajar dari Kabupaten Pasuruan yang berhasil membawa nama daerahnya ke tingkat nasional.
Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena diraih di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Ayah Akbar telah meninggal dunia, sementara sang ibu, Nuriyati, hingga kini harus bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menopang pendidikan anak-anaknya.
Bagi Nuriyati, pendidikan menjadi salah satu harapan terbesar yang ingin terus diperjuangkan meski kondisi keluarga tidak mudah.
“Sebagai seorang ibu, saya hanya ingin anak-anak tetap sekolah dan punya masa depan. Walaupun ayahnya sudah tidak ada dan saya harus bekerja serabutan, saya akan tetap berusaha semampu saya,” ujar Nuriyati.
Ia mengaku bangga sekaligus terharu melihat Akbar mampu memperoleh kesempatan mengikuti program Parlemen Remaja DPR RI.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
“Saya sangat bangga dengan Akbar. Saya tidak menyangka dia bisa sampai ke tingkat nasional. Bagi saya, ini bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang perjuangan anak saya untuk membuktikan bahwa keadaan keluarga tidak menghalangi dia untuk terus belajar,” katanya.
Perjalanan pelajar MAN 1 Pasuruan ini menuju Parlemen Remaja DPR RI juga tidak mudah. Program tersebut diikuti ribuan pelajar dari berbagai daerah. Dari 6.975 pendaftar, hanya 200 pelajar yang dinyatakan lolos sebagai peserta.
Dari Jawa Timur, terdapat 29 pelajar yang berhasil terpilih. Sementara untuk wilayah Dapil II, hanya dua peserta yang berhasil lolos, salah satunya adalah Shovi Akbar Maulana dari MAN 1 Pasuruan.
Keberhasilan tersebut sekaligus menjadikan Akbar sebagai satu-satunya perwakilan Kabupaten Pasuruan dalam program Parlemen Remaja DPR RI.
Bagi keluarga, pencapaian Akbar bukan sekadar keberhasilan seorang pelajar menembus program nasional. Lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah keluarga yang harus bertahan setelah kehilangan sosok ayah.
Nuriyati berharap keberhasilan anaknya tidak berhenti pada pencapaian Parlemen Remaja. Ia ingin Akbar terus belajar, menjaga sikap, dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk masa depan.
“Saya berharap Akbar jangan cepat puas. Terus belajar, tetap rendah hati dan jangan lupa dengan keluarga. Kalau nanti berhasil, saya ingin dia tetap ingat bagaimana perjuangan keluarganya dari bawah,” pungkas Nuriyati.
Kisah Shovi Akbar Maulana menjadi gambaran bahwa prestasi tidak selalu lahir dari kondisi yang serba berkecukupan.
Di balik langkah seorang pelajar MAN 1 Pasuruan menuju panggung nasional, terdapat perjuangan seorang ibu yang tetap bekerja dan bertahan demi memastikan anaknya memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan dan cita-cita.
Artikel Terkait
Laju Kencang Ioniq 6 Berakhir Tragis: Hantam Separator Tomang Hingga Hangus Terbakar
Dugaan Santriwati Alami Pelecehan di Ponpes Sleman, Pihak Pesantren Buka Suara
Ulah Aneh Emak-emak Penghisap Kamper Bikin Geger Penumpang KRL Manggarai-Bogor
Rombak Total Wajah Kota, Wali Kota Bekasi Siapkan Gebrakan Pembangunan Infrastruktur Megah
Wamenhan Respons Usulan Nias Barat, Posal Jadi Opsi Awal Penguatan Maritim