news

BRIN Tindaklanjuti Tujuh Luaran Hasil The Decade

Rabu, 17 Agustus 2022 | 20:12 WIB

Badan Riset dan Inovasi NasionaI (BRIN) mendukung komitmen para periset dalam merespon seruan internasional terkait peran ilmu pengetahuan untuk  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) No. 14 dari Agenda 2030, sebagaimana  tertuang dalam dokumen UNESCO tentang International Decade of Ocean Science for Sustainable Development 2021–2030. Komitmen ini diwujudkan melalui program – program yang dilaksanakan Komite Nasional Indonesia untuk Program IOC – UNESCO. Salah satu bentuk dukungan komitmen BRIN tersebut diwujudkan dengan menggelar Lokakarya yang mengusung topik Studi Pulau-Pulau Kecil pada tanggal 18 Agustus 2022.


Jakarta, NAWACITAPOST.COM - International Decade of Ocean Science for Sustainable Development, disingkat the Decade, mengagendakan tujuh luaran yang dapat dirasakan oleh publik pada tahun 2030, yaitu Laut yang bersih,  sehat dan risilien, produktif, dapat dipahami perilakunya, aman, dapat diakses oleh semua pihak, dan menginspirasi pulbik. Tujuh luaran tersebut hanya dapat dicapai melalui kerja sama semua pihak, yaitu pemerintah, pengusaha, peneliti/akademisi, dan masyarakat madani.

Dalam upaya keterlibatan Indonesia pada agenda the decade, Komite Nasional Indonesia untuk program Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC) – UNESCO menginisiasi lokakarya dan tinjuan lapangan ke Kepulauan Seribu. Lokakarya ini dikemas dalam topik kegiatan “Studi Pulau-Pulau Kecil” yang akan diselenggarakan pada tanggal 18 Agustus 2022 di Kampus BRIN Widya Graha – Kawasan Gatot Subroto, Jakarta.

Pulau-Pulau Kecil menjadi objek kajian kali ini sebagaimana disampaikan Ketua Panitia, Agus Heri Purnomo untuk mencapai tujuan jangka panjang di tahun 2030, yaitu menjawab tantangan mewujudkan laut bersih, sehat, dan produktif. "Maka, tim periset menargetkan tujuan jangka pendek yaitu, terbangunnya jejaring dan kerjasama riset multidisiplin, baik nasional maupun internasional, tersedianya informasi ilmiah untuk dijadikan landasan perumusan kebijakan pemanfaatan sumber daya laut secara optimal dan berkelanjutan dalam kerangka blue economy, dan terealisasinya kontribusi signifikan periset Indonesia pada Decade of Ocean Science," kata Agus.

Agus menjelaskan, para saintis nasional akan mengkaji kondisi ekosistem di pulau-pulau kecil, baik dari aspek biofisik maupun sosial ekonomi. Mereka akan berbagi pandangan dan masukan dengan ilmuwan luar negeri.

Melalui lokakarya tersebut, Agus berharap, diskusi di antara segenap peserta dapat menghasilkan titik temu dan rumusan-rumusan tentang cara pencapaian target dan tujuan-tujuan tersebut.   "Rumusan-rumusan tersebut, lebih lanjut akan ditindaklanjuti dengan penjalinan kerja sama antar berbagai pihak terkait seperti pemerintah, pengusaha, peneliti/akademisi, dan masyarakat, NGO dll., dalam maupun luar negeri, untuk melaksanakan berbagai kegiatan keilmiahan seperti pelaksanaan joint research, scientific data exchange, dan penyelenggaraan forum-forum ilmiah," tambah Agus.

Saat ini, kata Agus, sedang dilakukan proses penyusunan rencana kerja sama, di antaranya dengan Balai Pustaka, Yayasan Bahari Indoneia terkait Ocean Litteracy, pengusulan proposal pendanaan ke Unesco, UNDP, dan local gov. Juga tengah diupayakan peningkatan keterlibatan dengan regional research patners, di antaranya dengan JSPS, Korea Indonesia Marine Technology Office.

Pulau Kecil adalah pulau dengan luasannya lebih kecil atau sama dengan 2.000 km persegi. Jumlah pulau kecil mencapai ribuan dan jauh lebih banyak dibanding pulau besar yang negara Indonesia miliki.

"Pulau kecil memiliki banyak potensi untuk dikembangkan karena keunikan atau kekhasan ekosistemnya. Pada saat yang sama pulau kecil ini memiliki tantangan besar jika berpenduduk padat," imbuhnya.

Pada pulau-pulau kecil berpenduduk, ketersediaan air dan sanitasi hampir selalu menjadi tantangan utama. Tantangan menjadi semakin kompleks/ rumit manakala tuntutan ekonomi yang direspon dengan berbagai upaya pembangunan. Hal itu antara lain harus berbagi ruang dengan kepentingan untuk menjaga kesehatan, produktivitas, dan keberlanjutan fungsi layanan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.

Salah satu bentuk upaya pembangunan yang banyak terjadi di pulau-pulau kecil adalah pengembangan industri wisata bahari. Karakteristik alam unik yang ada di pulau-pulau kecil menginspirasi pengambil kebijakan untuk mengupayakan penyejahteraan masyarakat melalui pengembangan wisata berbasis ekosistem pantai di pulau-pulau kecil.

"Terlepas dari dampak positif bagi ekonomi masyarakat, pengembangan wisata tersebut juga berpotensi membawa berbagai dampak negatif terhadap layanan ekosistem (ecosystem services) seperti, akumulasi sampah laut, perusakan habitat, dan penurunan populasi biota laut," ungkapnya.

Di sisi lain, dinamika dampak terhadap ekosistem berinteraksi dengan sikap dan perilaku pemangku kepentingan. Hal itu termasuk wisatawan dan masyarakat lokal, serta pengambil kebijakan, sehingga upaya untuk menyandingkan kepentingan publik dan alam tidak akan efektif tanpa mempertimbangkan aspek interaksinya.

Interaksi dalam sebuah sistem sosial – ekologis harus dipahami dan dijadikan dasar untuk membuat kebijakan yang mengarah pada deskripsi ekosistem laut, sebagaimana tujuan akhir dari Decade of Ocean Science.  Oleh karena itu, lokakarya studi pulau-pulau kecil ini berupaya membangun kemitraan antara pemerintah, pengusaha, dan periset/ akademisi untuk merancang kerja sama riset aksi dan inovasi. Misinya menjadikan laut yang bersih, sehat dan produktif, sehingga kita dapat mewujudkan ekonomi berwawasan lingkungan.

Tags

Terkini