news

Menolak "Tinggal Kelas"! Ketika Air PAM Mati Total Sejak November dan Slogan "Naik Kelas" Berubah Menjadi Lelucon Getir di Tapanuli Tengah

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24 WIB

SOROTAN KHUSUS: IRONI DI BALIK RETORIKA TAPTENG "NAIK KELAS"

NAWACITAPOST.COM — Slogan megah "Naik Kelas" yang kerap didengungkan sebagai simbol kebangkitan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara kini luluh lantak, kontras dengan realitas pahit yang mencekik tenggorokan warga. Hingga Sabtu (30/05/2026), krisis air bersih masih menjajah wilayah Pandan. Fasilitas publik dari Perusahaan Air Minum (PAM) Mual Nauli dilaporkan macet total—tanpa tetesan air sedikit pun—memaksa rakyat jelata memeras keringat dan dompet demi menyambung hidup.

Potret Memilukan: Becak Modifikasi dan Bisnis Air Jerigen

Pantauan tajam di lapangan merekam sebuah ironi yang menyayat hati di pusat administrasi Tapteng:

  • Penyambung Nafas yang Mahal: Sebagian warga terpaksa memodifikasi becak motor (betor) mereka demi mengangkut hingga 16 jerigen air dalam sekali jalan.

  • Komodifikasi Kebutuhan Dasar: Air tersebut dijual kembali kepada sesama warga dengan harga Rp4.000 per jerigen.

  • Kerja Fisik yang Melelahkan: Bagi mereka yang miskin, pilihannya hanya satu: melangsir air satu per satu menggunakan sepeda motor atau memanggulnya sendiri di bawah terik matahari.

Baca Juga: Misteri Laptop Gaib Libera dan Teka-teki Dana BOS di Pesawaran: LSM Melapor, Kepala Sekolah Mengingkar!

"Gak lancar, setetes pun gak mengalir! Kita sebagai warga Pandan sebenarnya sudah sangat kesal. Bagaimana sebenarnya pihak PAM dan Pemkab Tapteng menangani masalah ini? Air ini unsur pertama dan paling utama di dalam rumah tangga," ujar seorang warga yang terpaksa menyembunyikan identitasnya demi alasan keamanan.

Lumpuhnya Sistem: Bukan Kelonggaran, Tapi Bukti Kegagalan

Meskipun sejak bencana 25 November 2025 lalu hingga akhir Mei 2026 ini tagihan PAM belum ditagih, warga tidak melihat hal ini sebagai anugerah. Ini adalah bukti nyata lumpuhnya tata kelola air bersih daerah.

Beban hidup yang membengkak memicu gugatan keras terhadap kapabilitas para pejabat. Waktu, tenaga, dan uang bensin habis hanya untuk berburu air.

Baca Juga: BPBD Diduga Rekayasa Data, Warga Padangsidimpuan Desak Kejagung Turun Tangan!

Komponen Beban Warga

Realitas di Lapangan

 

Harga Air

Rp 4.000 / Jerigen

Halaman:

Tags

Terkini