Surabaya NAWACITAPOST - Iringan musik Hadrah remaja Masjid Al - Islach menyambut kehadiran anggota DPRD Surabaya Dyah Katarina saat jaring aspirasi warga RT02 RW09 Jl. Sawahan Templek Kel/kec. Sawahan, Jumat 12 Mei 2023.
Seperti biasa, agenda reses jaring aspirasi dari Fraksi PDI Perjuangan selalu diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya'.
Pada kesempatannya, Dyah Katarina yang duduk di Komisi D bidang Sosial Pendidikan ini menerangkan apa yang menjadi tugas dan fungsi dirinya sebagai anggota Dewan.
3 kali dalam satu tahun, Kewajiban anggota DPRD adalah melakukan Reses yaitu rapat bersama warga. "Jadi anggota DPRD wajib turun ke Kampung-kampung untuk menyerap aspirasi warga," ungkap Dyah.
"Fungsi kami adalah sebagai mediator atau perantara yang menyampaikan semua aspirasi warga ke pemerintah kota," aku mantan istri Walikota Bambang DH yang ini duduk sebagai anggota Komisi VII DPR RI.
Prioritas Pemkot saat ini, kata Dyah adalah untuk sosial dan pendidikan. "Itu sudah sejak masa Walikota Bambang DH, sekolah SD dan SMP digratiskan," katanya.
Saat ini, terang Duah, dari 50 anggota DPRD Surabaya 17 diantaranya adalah perempuan. Dan dari 15 anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan, 5 diantaranya adalah perempuan.
"Tidak banyak kota dan kabupaten seperti di kota Surabaya, maka dari itu saya bangga menjadi warga kota Surabaya, " Jelas ketua TP-PKK kota Surabaya 13 tahun ini.
Tiba saat penyampaian aspirasi, Wachid ketua RT02 berharap agar kesempatan reses dewan ini dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh warga untuk kebaikan kampung Sawahan Templek.
Hal yang sama disampaikan Istiqomah ketua RW09. "Monggo bapak ibu dapat menyampaikan segala keluhannya, terutama terkait bantuan sosial, pendidikan, kepemudaan serta ketenaga kerjaan," sebutnya.
Pada kesempatan itu, Dyah Katarina juga menerima banyak keluhan terkait banyaknya kendala dari para Kader Surabaya Hebat (KSH).
"Tujuh kader harus mengatasi 400 KK, rasanya mustahil dilakukan dengan benar," ucap Dyah yang pernah menjadi Ketua TP-PKK selama 13 tahun ini.
KSH juga mengeluh beratnya beban tugasnya, belum lagi sering ada rapat dadakan yang otomatis menyita waktu mereka.
Para Kader juga nampak kebingunan saat ditanya pendataan warga yang tidak berdomilsili di Sawahan Templek. "Yang paling sensitif adalah masalah bantuan. Ada yang dapat dan banyak yang tidak dapat," ucap salah satu kader.
Untuk data bantuan Gamis, warga merasa tidak tepat sasaran. "Disini, beberapa Lansia dicoret dari data bantuan," kata Kader.
Bahkan anehnya, ada ODGJ yang sejak rumahnya mendapat RUTILAHU, datanya terhapus dari bantuan permakanan dan PKH.
"Kasihan, gara-gara sekarang rumahnya sudah di keramik, bantuan untuk bu Sumartiah, ODGJ usia 55 tahun dihapuskan," ucapnya.
Disini, ucap Dyah, merupakan kampung pedagang Blauran. Ada permasalahan bantuan UMKM. Dalam program bantuan UMKM, Pemkot mewajibkan untuk terlebih dahulu diadakan pelatihan. Permasalahannya banyak pelatiha yang salah kaprah sehingga tidak menjadi manfaat untuk warga.
"Pedagang dawet dilatih membuat kue, pedagang dilatih menjahit, salah kaprah dan tidak akan menjadi manfaat, " Ucap Dyah.
Untuk itu, setiap akan melakukan pelatihan, Pemkot wajib memperhatikan bakat, minat dan kemanfatannya untuk warga.
"Jadi sebagai mediator, semua usulan warga segera kami sampaikan ke Pemerintah Kota dalam sidang Paripurna, " Ucap Dyah.
"Semoga kehadiran saya membawa dampak positif bagi masyarakat, khususnya warga Sawahan Templek, " Tandasnya. (BNW)