Jakarta, NAWACITApost.com - Angki Purbandono adalah seniman asal Kendal, Jawa Tengah dan kini menetap di Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan seni di Modern School of Design (MSD) Yogyakarta dan ISI Yogyakarta. Dia adalah salah satu pendiri Ruang MES 56, kolektif seni media berbasis di Yogyakarta dan juga PAPs (Prison Art Programs), program seni penjara di Yogyakarta.
Angki telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni nasional maupun internasional. Beberapa kegiatan yang pernah diikuti Angki di antaranya residensi 1 tahun Asian Artist Fellowship, Changdong Art Studio, Korea Selatan tahun 2005-2006, Pameran LIVE and LET LIVE: Creators of Tomorrow, dan 4th Fukuoka Asian Triennale (2009).
Di pengujung 2012, ia ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Yogyakarta atas kepemilikan narkotika jenis ganja. Lantaran kasus tersebut, Angki dijatuhi vonis 12 bulan kurungan.
Waktu masih mendekam di penjara, ia marah dengan sistem hukum di Indonesia. Namun, setelah lewat lima bulan dari vonis 12 bulan, ia justru mendapatkan kesibukan baru dengan seni yang digelutinya hingga menghasilkan karya yang lebih bagus.
"Itu terjadi setelah aku diberi ‘kesempatan’ punya studio di dalam. Bisa bawa mesin scan dan komputer, tanpa harus bayar sepeserpun. Proses seni di dalam penjara inilah yang akhirnya terpola dengan baik. Jadi kita bareng-bareng bikin konsep, bikin bangga keluarga, dan kawan-kawan kami yang berada di luar," cerita Angki dikuti dari Vice, Jumat (5/5/2023).
Menariknya, Angki bercerita dirinya sebenarnya sudah bisa bebas pada bulan keenam. Namun, justru ia malah memilih untuk tetap berada di dalam penjara hingga sisa waktu penahanannya berakhir.
"Jadi goals aku selama masa penahanan yang aku sebut sebagai ‘residensi’ itu, adalah membuat eksibisi atau realisasi terkait konsep yang sudah aku siapkan dari dalam penjara. Sebetulnya aku bisa bebas pada bulan keenam. Akhirnya enggak jadi, karena pola karya dan pameran sudah ada di otak, jadi sekalian aku habiskan masa tahananku," kata dia.
Selama di lapas, ia juga mengaku malah bisa memusatkan konsentrasinya belajar musik, yang ia sebut dengan 'seni penjara'. "Ngasah otak. Belajar seni baru yaitu ‘seni penjara’. Sebuah seni yang dihasilkan dari memori penjara, baik dari napi, mantan napi, maupun bukan dari keduanya. Yakni teman atau kerabat," kata dia.