Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Indeks Kehidupan Kualitas Udara atau AQLI menjelaskan bahwa penduduk DKI Jakarta, diperkirakan bakal kehilangan harapan hidup rata-rata 3-4 tahun akibat polusi udara. Perkiraan itu muncul dalam laporan pembaruan tahunan AQLI pada Selasa, 14 Juni 2022.
Laporan tersebut menuliskan, seperti Asia Selatan, hampir seluruh Asia Tenggara (99,9 persen) sekarang dianggap memiliki tingkat polusi yang tidak aman. Polusi di wilayah itu meningkat dalam satu tahun sebanyak 25 persen di beberapa wilayah.
“Penduduk yang tinggal di bagian paling tercemar di Asia Tenggara, wilayah sekitar kota Mandalay, Hanoi, dan Jakarta diperkirakan akan kehilangan harapan hidup rata-rata 3-4 tahun,” tertulis dalam laporan itu.
Disebutkan juga, hampir seluruh wilayah Asia Tenggara dianggap memiliki tingkat polusi yang tidak aman, dengan polusi yang meningkat dalam satu tahun sebanyak 24 persen di beberapa wilayah.
Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan polusi partikular rata-rata tahunan global (PM2.5) menurun.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga merevisi tingkat aman paparan polusi dari semula 10 mikrogram per meter kubik kini menjadi 5 mikrogram per meter kubik.
"Pedoman baru tersebut membawa sebagian besar dunia atau 97,3 persen global populasi ke dalam zona tidak aman," tulis laporan tersebut.
Laporan soal AQLI tidak hanya untuk Jakarta.
Pulau Jawa juga menjadi sorotan lantaran sebagai pusat industri di Indonesia.
Saat tahun pertama Covid-19 melanda, wilayah sekitar Jakarta seperti Depok, Bogor, Bekasi dan tangerang mengalami penurunan tingkat polusi sebesar 16 persen.
Namun, penurunan tersebut hanya bisa menekan tingkat polusi menjadi 30,1 mikrogram per meter kubik dan jauh dari standar WHO.
"Jika wilayah tersebut berhasil memenuhi pedoman WHO, sekitar 29 juta penduduk akan mendapatkan rata-rata kenaikan harapan hidup 2,5 tahun," demikian laporan AQLI.