Sabtu, 18 Juli 2026

Rembuk Air Bersih, Anas Karno Dorong PDAM kaji ulang tarif untuk MBR

Photo Author
Elya Yudi, Nawacita Post
- Jumat, 26 November 2021 | 17:15 WIB
Surabaya NAWACITAPOST - Terpilihnya Arief Wisnu Cahyono, sebagai Direktur Utama (Dirut) PDAM Surya Sembada Kota Surabaya yang baru, menjadi harapan baru bagi masyarakat Surabaya yang sudah menunggu-nunggu adanya Air Siap Minum yang sudah diwacanakan beberapa tahun ini.

Menyikapi wacana ini, Radio Mercury mengundang beberapa stakeholder terkait dalam agenda Rembuk Kota yang mengambil tema “Apa Kabar Air Layak Minum PDAM?”.

Selain Dirut PDAM, diskusi yang diselenggarakan melalui zoom dan disiarkan live onair ini diikuti antara lain, Sekretaris Dewan Pengawas PDAM Surya Sembada Surabaya - Sunarno, Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jatim - Said Sutomo, dan Anas Karno Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya selaku bidang kerja bersama PDAM.

Berbagai catatan, ide dan saran membangun, termasuk kritikan disampaikan oleh beberapa narasumber kepada Dirut PDAM yang baru dalam agenda Kamis 25 November 2021 sore tersebut. Seperti yang disampaikan Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jatim, Said Sutomo.

Secara normatif, Ia mengingatkan adanya Perda Nomor 13 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Perda Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Perusahaan Daerah Air Minum, ada dua fungsi ganda PDAM, yaitu fungsi layanan publik/sosial dan fungsi bisnis sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Peranan meningkatkan PAD dan membangkitkan perekonomian daerah, itu ya harus kuat PDAM. Kalau sampai PDAM-nya itu bangkrut alias nggak untung, itu ya nggak akan mungkin fungsi sosial dan layanan publiknya bisa jalan. Mendistribusikan air minum kepada pelanggan dan ternyata airnya masih belum layak dikatakan sebagai air minum, maka itu adalah peluang sekaligus tantangan. Kalau itu berhasil, itu bisa membantu kesejahteraan masyarakat Surabaya,” ujarnya Said Sutomo.

Tentang beberapa lokasi air PDAM yang berkualitas layak minum, seperti di taman-taman dan tempat-tempat ibadah, ditambahkan Said, saat ini banyak yang sudah tidak berfungsi lagi. Dirinya meminta kepada PDAM Surya Sembada, semestinya kualitas air yang seperti itu keberadaannya malah diperluas hingga ke pelosok RT/RW.

“Kalau masyarakat disuruh beli ya nggak apa-apa. Itu kan bisa meningkatkan pendapatan (kas) RT/RW (kampung) sekaligus menekan belanja warga yang dulunya tergantung pada air mineral yang mahal, bisa disublimasi dengan air PDAM yang standar air minum,” ujar pria yang juga anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) ini.

Hal tak senada disampaikan Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Anas Karno. Ia mengaku banyak menampung keluhan warga Kota Surabaya terutama kualitas air PDAM.

" Warga sebenarnya tak mau dipusingkan dengan air PDAM yang masih belum layak minum. Asal layak mandi saja, itu sudah termasuk bagus," kata Anas Karno.

“Saya dapat videonya di WA dari warga, kondisi air layak mandinya seperti ini, layak mandi juga nggak layak,” tambah wakil rakyat yang berasal dari PDI-P ini.

Kemudian, masyarakat juga mengeluhkan distribusi dan tekanan air yang tidak konsisten. Hal itu juga dialami Anas Karno di rumahnya.

“Jujur saja, saya sendiri juga mengalami. Di saat pagi, (air. red) ndak keluar. Keluarnya nanti di atas jam 9 malam. Cita-citanya (PDAM. red) supaya tidak ada lagi yang tidak dapat air (TDA), ini bagus. Tapi harus kita atasi bersama, penyebab TDA ini seperti apa, analisanya harus tepat,” jelas Anas.

Pada intinya, Anas menegaskan agar PDAM juga memperhatikan kebutuhan air bersih bagi warga miskin sesuai arahan Walikota Surabaya Eri Cahyadi.

" Jangan sampai malah warga miskin atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) mensubsidi warga kaya. Maka dari itu saya mendorong kepada jajaran direksi yang baru terpilih itu untuk menghitung kembali tarif yang akan diberlakukan kepada warga," tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Pengawas PDAM Surya Sembada Surabaya, Sunarno, menegaskan pihaknya siap mengawal kinerja direksi baru sesuai peraturan yang berlaku, termasuk soal kualitas air untuk pelanggan.

“Kami menjamin produksi IPAM kami sudah sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.492 Tahun 2010. Pasti siap minum,” tegas Sunarno.

“ Dari 6 ribu kilometer pipa, kami akan minta pihak direksi secara bertahap melakukan rehabilitasi atau peremajaan pipa dengan skala prioritas. Prioritas dalam arti rehabilitasi untuk menjaga kualitas dan memperbaiki kebocoran pipa. Kualitas, kontinyuitas dan kuantitas air menjadi tantangan kami, sesuai dengan amanat Wali Kota untuk diselesaikan,” lanjut dia.

Menjawab beberapa hal tersebut, Dirut PDAM Surya Sembada Kota Surabaya, Arief Wisnu Cahyono, memaparkan bahwa pihaknya mentargetkan pada 2023 bahwa semua pelanggan tidak akan ada lagi yang TDA. Saat ini sebesar 99,39% dari total sekitar 594 ribu pelanggan diklaim tak lagi menerima distribusi air yang mampet.

“Cakupan layanan kita memang sudah mendekati 100 persen, tetapi yang disebut TDA itu memang masih cukup banyak ya. Kami punya data dashboard yang online. Dashboard ini mengukur tekanan air di wilayah pelayanan," ujar Wisnu.

"Yang mendapatkan air dari tekanan yang kurang dari 0,2 bar, itu masih 80 ribuan. Jadi masih cukup banyak. Artinya dari 80 ribuan itu masih ada yang potensi untuk tidak teraliri secara kontinyu selama 24 jam. Nah itu yang Pak Wali minta, tahun 2023 sudah tidak ada lagi yang seperti itu,” paparnya.

Selain persoalan TDA, Wisnu juga menjelaskan tantangan mengenai kualitas air baku yang diakuinya mengalami penurunan. Musim penghujan, dikatakannya, mempengaruhi keandalan pengolahan air baku di Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM).

“Meskipun demikian kita berupaya memaksimalkan proses operasi. Kualitas produksi IPA (Instalasi Pengolahan Air) kita selalu terjaga. Sebetulnya kalau dari sampling air di 160 sampai 300 titik pelanggan di setiap bulannya, itu trennya sekarang dibandingkan di tahun 2019-2020 itu lebih baik malahan," terang Wisnu kepada audiens.

"Bahwa di beberapa titik masih ada keluhan-keluhan, itu memang harus kita akui. Nah ini memang PR kita ke depan," akunya.

Terkait produksi di IPA, Wisnu memastikan masih terkontrol. Tapi ketika itu terjadi perubahan atau kontaminasi di pelanggan, berarti ada sesuatu yang beruah pada saat air berjalan,” tutur Wisnu.

“Dari enam ribu kilometer total panjang pipa distribusi, mungkin sekitar 30 hingga 50 persennya pipa itu sudah lansia. Ini memerlukan peremajaan. Dan untuk peremajaan tentu saja biayanya tidak sedikit. Satu kilometer itu butuh sekitar satu miliar (rupiah). Ini tentu kaitannya dengan bagaimana investasinya,” lanjut Dirut PDAM Surya Sembada.

Diakhir, Dirut PDAM Surya Sembada meminta kepada masyarakat untuk tak segan melapor ke pihaknya, bila mengalami gangguan distribusi air, serta layanan perbaikan lainnya.

“Kami sudah mempunyai channel-channel keluhan, baik itu call center maupun WhatsApp center, yang itu bisa kami layani 24 jam full yaitu 0812 331 6666. Kemudian call centernya bebas pulsa 0800 192 666. Jadi monggo, apapun keluhannya bisa disampaikan ke channel kami,” pungkas Arief Wisnu Cahyono. (BNW)

Editor: Elya Yudi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini