Minggu, 31 Mei 2026

Kabid GTK Dispendik: Program Literasi dan Numerasi sudah sejak 2014 di Surabaya

Photo Author
Elya Yudi, Nawacita Post
- Jumat, 5 November 2021 | 23:17 WIB




Surabaya NAWACITAPOST - Pada peringatan hari Guru Nasional 5 November 2021 , Dirjen GTK Kemendikbud RI berkesempatan melakukan peluncuran Guru Belajar dan Berbagi Seri Literasi dan Numerasi.

Acara yang digelar melalui link zoom ini diikuti oleh Dr. Iwan Syahril (Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek), Prof. Dr. Nunuk Suryani (Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan) , Dr. Santi Ambarrukmi (Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat), Dr. Drs. Rachmadi Widdiharto (Direktur Guru Pendidikan Dasar), Dr. Yasuardi (Direktur Guru Dikmendiksus), DR. Praptono (Direktur kepala sekolah, pengawas sekolah dan tenaga Kependidikan), Temu Ismail (Plt. Direktur Pendidikan profesi guru).

Selain dari kemendikbud pusat, para kepala dinas provinsi dan kota kabupaten juga terlihat turut dalam agenda zoom tersebut. Turut serta ratusan guru dan kepala sekolah dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutan awal, Dr. Rachmadi Widdiharto Direktur Guru Pendidikan Dasar mengutip pernyataan badan dunia PBB melalui UNESCO pada tahun 2018 bahwa literasi merupakan kemampuan untuk mengintifikasi, memamahami, menafsirkan, menyusun, mengomunikasikan dan menghitung menggunakan materi cetak dan tertulis yang terkait dengan berbagai konteks.

Sedangkan Numerasi, menurut UNESCO adalah kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan ketrampilan operasi hitung didalam kehidupan sehari-hari. Serta kemampuan untuk menginterprestasi informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling kita.

" Hal ini sejalan dengan kebutuhan kompetensi abad ke XXI atau yang dikenal dengan 4C yaitu menuntut berfikir kritis, kreatif, komunikatif serta mampu berkolaborasi," ungkap Rachmadi melalui link zoom, Jumat 5 November 2021.

Atas dasar pemikiran ini dan dalam rangka memperingati hari Guru Nasional 2021, yang mengambil tema "bergerak dengan hati, pulihkan pendikan", maka Dirjen guru dan tenaga pendidikan meluncurkan "Guru Belajar dan Berbagi Seri Literasi dan Numerasi".

Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan pendidik dan tenaga pendidikan yang berkualitas yang pada gilirannya nanti diharapkan dapat berimbas pada peningkatan capaian hasil belajar siswa-siswi terlebih untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Sementara itu, dalam paparan sambutannya, Dr. Iwan Syahril Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek mengapresiasi seluruh guru yang dengan semangat mengikuti bimbingan teknis dan pelatihan secara mandiri di portal Guru belajar dan berbagi.

" Saat ini sudah lebih 1,1 juta guru yang ikut dan sudah menjangkau lebih dari 70 persen sekolah-sekolah yang ada di Indonesia," terangnya.

Dalam kesempatan itu, selain menjelaskan terkait bagaimana program guru belajar dan berbagi seri literasi dan numerasi, Dr. Iwan Syahril juga mengingatkan tentang kebijakan merdeka belajar dan hubungannya dengan literasi dan numerasi.

" Sesuai dengan filosofi dari bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madya mangun Karsa, dan Tutwuri Handayani. Bahwa sebagai seorang pendidik, kita memiliki nilai untuk menjadi teladan, membangkitkan semangat dan akhirnya mendorong murid-murid kita untuk menjadi manusia-manusia mandiri atau merdeka. Karena itu, mereka harus merdeka dalam belajar dan para guru juga merdeka dalam mengajar, sehingga tumbuh kembang anak didik kita bisa tumbuh secara holistik," terang Iwan.

Dirjen juga menjelaskan bahwa sudah 13 episode dalam merdeka belajar dan yang pertama salah satunya merumuskan sistem Assesmen nasional yang sebelumnya adalah sistem ujian nasional.

" Ujian nasional sangat fokus dengan konten, sedangkan assesmen nasional fokus pada kompetensi-kompetensi dasar yang lintas bidang dan mata pelajaran yaitu literasi, numerasi dan karakter," ungkap Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek.

Semua ini, menurut Dirjen adalah hal sangat penting untuk menyesuaikan zaman sekarang ini yang penuh dengan ketidaknyamanan dan era yang Distruktif.

" Karena itu, skill yang diperlukan adalah kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat, dari waktu ke waktu. Ap yang sudah kita kuasai sekarang tidak akan cukup untuk beberapa tahun kedepan karena dunia akan terus berubah," katanya.

Diakhir, Dirjen berharap, dengan adanya program guru belajar dan berbagi seri literasi dan numerasi, para guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat lebih handal, lebih berdaya, guna mencapai ketrampilan literasi dan numerasi di era globalisasi revolusi industri 4.0 untuk menghasilkan SDM-SDM unggul untuk Indonesia Maju.

" Teruslah bapak ibu berkarya, berinovasi, berkreasi dan mengembangkan diri, agar terus tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan dalam pembelajaran," pesan Dr. Iwan Syahril sembari meluncurkan program Guru Belajar dan Berbagi Seri Literasi dan Numerasi.

Selain peluncuran program Guru Belajar dan Berbagi Seri Literasi dan Numerasi, dalam agenda tersebut juga ada sesi gelar wicara yang membahas tentang modul yang nantinya akan ditampilkan dalam seri Literasi dan numerasi. Dan salah satu narasumbernya adalah Mamik Suparmi, Kepala Bidang Guru Ketenagakerjaan (GTK) Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Dalam paparannya, Mamik menjelaskan bahwa sejak 2014 di era kepemimpinan Walikota Bu Risma, Surabaya telah menetapkan diri sebagai kota Literasi. Kemudian juga dikuatkan melalui peraturan Walikota (Perwali).

" Sehingga dengan Perwali ini, literasi di Surabaya sudah bergerak antar OPD, yakni dengan badan arsip, diskominfo, terutama Dinas pendidikan (Dispendik) kota Surabaya," ungkap Mamik.

Dalam hal ini, Dispendik konsen mengembangkan literasi ini sesuai eranya.

Saat ini, menurut Mamik, Literasi di kota Surabaya sudah tidak lagi pada tataran membaca, tapi sudah pada tataran berkreasi.

" Menciptakan dan membuat karya. Guru berkarya dan sekaligus mendorong siswa untuk berkarya. Baik itu dalam bidang karya ilmiah remaja atau biasa kita sebut peneliti belia," katanya.

Selain itu, juga ada guru dan siswa yang membentuk secara individual maupun berkolaborasi dalam hal literasi.

" Disitu juga bisa melibatkan peran orang tua untuk mendukung literasi ini," tambah Mamik.

Ia juga menerangkan, ditahun 2020 saat letihnya masyarakat menghadapi pandemi Covid-19, guru-guru dikota Surabaya jenjang TK/SD/SMP tetap berkarya.

" Pada momentum Hari Guru Nasional 2020, kita mempersembahkan program yang bernama 'Saseksabu' yaitu Satu Sekolah Satu Buku," terangnya.

Disitu ada seribu buku karya guru untuk kota Surabaya. Dan ternyata hasilnya mendekati 2000 buku, tepatnya sekitar 1800 buku.

" Itu sudah kita abadikan dalam link yang setiap saat bisa dilihat," lanju Mamik.

Selain disediakan dalam bentuk PDF, buku-buku karya guru tersebut juga dicetak bahkan ber-ISBN (International Standard Book Number, RED) dan diberikan kepada taman bacaan masyarakat yang ada di lima wilayah kota Surabaya.

" Hal ini dilakukan, supaya karya para guru juga bisa dinikmati seluruh lapsan masyarakat. Selain itu juga menjadi ajang promosi bagi guru-guru kita agar lebih dikenal masyarakat," jelasnya.

Gerakan literasi ini, menurut Mamik, tidak hanya saat hari guru, tapi terus di gerakkan dan digaungkan supaya menjadi kebiasaan di sekolah.

" Sehingga banyak sekolah yang menerapkan program 1 kelas satu buku. Ada pula program satu hari satu kalimat, " tutur Mamik.

Nah, ketika hal ini ditabung dan dirangkai setiap hari, jadilah sebuah cerita. " Disitu bisa kita gali keunikan dari setiap guru dan siswa."

Di tahun 2021, Dispendik Surabaya meningkatkan literasi yang terintegrasi dengan praktik kehidupan nyata sehari-hari.

Untuk jenjang TK, literasi dan numerasi ini dikemas dalam bentuk karya dongeng yang sekaligus didongengkan. Dan untuk jenjang SD/SMP, dalam bentuk Cerpen maupun Cergam yang disajikan dalam bentuk flipbook supaya dapat lebih menarik untuk dibaca maupn dipresentasikan.

Untuk guru, dituntut berkarya membuat program pembelajaran yang bertemakan literasi numerasi yang terintegrasi dengan profil pelajar Pancasila.

" Intinya kita bergerak dan saling menggerakkan, sehingga tidak akan pernah putus untuk bergerak," tandasnya. (BNW)

Editor: Elya Yudi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini