Kamis, 4 Juni 2026

Setyo Pratiwi: Pendidikan Gratis untuk WBP LPKA kelas I Tangerang

Photo Author
Famati Ndruru, Nawacita Post
- Rabu, 19 Mei 2021 | 06:26 WIB
TANGERANG, Nawacitapost- Menjalani masa hukuman di penjara merupakan bentuk konsekuensi pelaku atas perbuatan yang dilakukan. Berada jauh dari dunia luar yang bebas, tentu merupakan hal yang berat, terutama bagi para pelaku kejahatan yang masih berusia 16-21 tahun.

Setyo Pratiwi kepala LPKA kelas I Tangerang menceritakan bahwa, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang sama walaupun sang anak masih menjalani Hukuman di LPKA kelas I Tangerang ini.

Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Tangerang juga menerima anak kurang mampu dari luar LPKA untuk meraih pendidikan SMA (Paket C), sehingga anak-anak generasi tidak ada yang terlantar pendidikan, Kepala lembaga pembina khusus anak kelas 1 Tangerang menyebut, meski bernama lapas, berbagai kegiatan yang ada di sini berfokus pada pembinaan pendidikan. "Di sini kami memprioritaskan kegiatan pendidikan. Pembinaan anak-anak ujar Ratmin

Menjalani masa hukuman di penjara merupakan bentuk konsekuensi pelaku atas perbuatan yang dilakukan. Berada jauh dari dunia luar yang bebas tentu merupakan hal yang berat, terutama bagi para pelaku kejahatan yang masih berusia di atas 16-21 tahun.

Namun, ternyata para anak tersebut tetap mendapatkan pendidikan dan berbagai keterampilan selama menjalani masa hukuman mereka. LPKA kelas 1 Tangerang menampung anak berusia 16-21 tahun, sehingga anak-anak bisa belajar dari praktek servis motor hingga pendidikan SMA (Paket C), Kepala Sekolah LPKA Tangerang menyebut, meski bernama lapas, berbagai kegiatan yang ada di sini berfokus pada pembinaan pendidikan. "Di sini kami memprioritaskan kegiatan pendidikan.

Pembinaan kegiatan pendidikan pun sangat padat sehingga mereka hampir tidak memiliki waktu luang," papar Ratmin kepada Nawacita post di LPKA, belum lama dia mengungkap, kegiatan belajar mengajar yang ada di LPKA seperti sekolah pada umum. Bahkan, para adik-adik yang berjumlah sekira 50 orang itu juga mendapatkan keterampilan lain dalam berbagai bidang. "Kalau pagi mereka sekolah, siangnya ada kegiatan kreativitas seperti bermain Musik (band), Sementara sore hari mereka ikut pesantren," tuturnya.

Mengenai tenaga pendidik, katanya, kualitas guru di lapas tidak berbeda dengan guru di sekolah umum, Perbedaan itu terletak pada latar belakang para guru yang bukan dari Ilmu Pendidikan.

Ratmin menyebut, ada guru yang didatangkan dari luar lapas dan petugas atau pegawai Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Walaupun latar belakangnya bukan pendidikan, tapi kualitas sama. ungkap guru-guru di LPKA. Untuk metode pembelajaran, termasuk kurikulum, lanjutnya, setiap tenaga pendidik di lapas tetap menggunakan kurikulum yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hanya saja, Ratmin menegaskan jika para anak-anak memang harus terus diberikan motivasi untuk belajar.

Motivasi mereka untuk belajar itu tinggi karena mereka merasa sudah bisa memiliki bakat kedepan karena berada di pendindikan dan pelatihan. Makanya, kami selalu memotivasi mereka bahwa mereka punya kehidupan dan jalan mereka masih panjang. Jadi, setelah ke luar dari sini mereka dapat melanjutkan hidup ke arah yang lebih baik, (RN)

Editor: Famati Ndruru

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini