Kamis, 4 Juni 2026

Dewan PDI-P Dyah Katarina Bantu Penanganan Anak Gizi Buruk

Photo Author
Elya Yudi, Nawacita Post
- Selasa, 11 Mei 2021 | 03:09 WIB

Surabaya NAWACITAPOST - Mendengar laporan kasus anak gizi buruk dari salah satu wartawan, Anggota DPRD kota Surabaya Komisi D, Dyah Katarina langsung turun ke lokasi di wilayah Simomulyo, Sukomanunggal, Senin (10/5/21)


Politisi perempuan PDI Perjuangan ini mengaku prihatin melihat kondisi sebut saja anak D (8 tahun) yang dinyatakan kurang gizi dan saat ini hanya bisa tidur dan kesakitan apabila menggerakkan badannya.


Informasi dari pihak puskesmas simomulyo anak D sudah menderita gizi buruk sejak kecil saat diasuh budhenya.

Menurut DK, sapaan Dyah Katarina, hal ini terjadi juga akibat tidak kooperatifnya orang tua terkait kondisi anaknya.


DK mengaku baru mengetahui peristiwa ini didasari kendala dokumen yang tidak lengkap sehingga akhirnya si anak tidak dibawa untuk berobat ke rumah sakit sesuai rujukan dokter.


" Orang tua enggan untuk membawa D berobat ke rumah sakit karena kendala biaya dan dokumen yang tidak lengkap. Maka dari itu dalam kasus ini dibutuhkan intervensi dari pemerintah untuk mempermudah pengurusan dokumen sehingga selekasnya si anak dibawa berobat ke rumah sakit dengan gratis," terang DK kepada Nawacitapost.


Pemerintah, menurut DK, masih perlu memperbanyak edukasi dan sosialisasi ke masyarakat tentang pentingnya memiliki dokumen identitas pribadi. " Masyarakat sering kali menganggap enteng permasalahan dokumen kependudukan, namun jika terjadi masalah kesra (kesejahteraan rakyat, red), kesehatan, pendidikan, dll, baru ribut mengurus surat-suratnya," ungkapnya.


" Kami di komisi D tak hanya menyoroti di bidang kesehatan anak tapi juga awareness masyarakat pada dokumen pribadinya," tandas DK.

Untuk kasus anak D, DK memastikan sudah mendapat perhatian dari puskesmas Simomulyo sekaligus diarahkan untuk dibawa ke Rumah sakit umum supaya dapat dilakukan observasi dan pengobatan yang tepat.


Sesuai pengakuan dari orang tua anak D, kondisi putranya seperti ini berawal dari jatuh saat bermain sepak bola bersama teman-temannya empat bulan yang lalu tapi tidak mau mengaku. Sebulan setelah itu, tiba-tiba D tidak bisa berjalan dan kakinya terasa sakit saat digerakkan.


" Sudah dibawa ke dokter umum dan dianjurkan ke rumah sakit, tapi saya terkendala dokumen keluarga untuk mengajukan pengobatan gratis," ujarnya.


Orang tua anak D juga mengaku bahwa semua dokumen keluarga yang mereka miliki hilang, namun ia tidak pernah melapor kehilangan sehingga sampai saat ini anak D tidak punya dokumen sama sekali.


" Sebenarnya saya pernah mengurus akte kelahiran D dan katanya sudah jadi. Tapi saat diambil ke kelurahan maupun kecamatan dinyatakan tidak ada," ungkapnya.


D sendiri, dari kecil diasuh oleh bude-nya (kakak perempuan orang tua laki-laki D, red). Namun sejak bude meninggal setahun yang lalu, D diasuh langsung oleh bapak-ibu kandungnya hingga hari ini. (BNW)

Editor: Elya Yudi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini