Surabaya NAWACITAPOST - Merasa sepuluh tahun ini tak disentuh Pemerintah Kota Surabaya, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Surabaya menyampaikan keluh kesahnya kepada satu satu Relawan MAJU.
Ditemui disebuah Cafe di ujung timur Surabaya, M. Suudi wakil ketua forum LKS Surabaya menjelaskan sampai dengan saat ini anak-anak yatim piatu di panti-panti asuhan Surabaya hanya mengandalkan belas kasihan dari donatur, tanpa pernah ada perhatian yang serius dari Pemerintah Kota Surabaya.
" Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Donatur, bukan oleh negara. Tapi dibeberapa kesempatan mereka minta doa kepada kami anak-anak yatim," ucapnya setengah bercanda menirukan pasal dalam UUD 45, Rabu (2/12/20)
Selama ini, bantuan permakanan banyak diberikan kepada anak-anak diluar panti asuhan, dengan alasan anak-anak di panti banyak yang dari luar Surabaya. " Memang ada anak-anak dari luar Surabaya, tapi lebih banyak anak-anak Surabaya. Dengan sistem seperti itu, anak-anak Surabaya yang ada di panti juga tidak mendapat bantuan permakanan maupun fasilitas pendidikannya," sesal Suudi.
Kami sempat iri, cerita Suudi saat tempo lalu ada jambore panti asuhan di Wonosalam Jombang. Semua peserta dari kota/kabupaten se-Jawa Timur didampingi oleh Wali kota dan Bupatinya, namun untuk Surabaya Ia bersama anggota LKS malah berangkat secara mandiri tanpa ada bantuan atau pendampingan dari Pemkot Surabaya.
Suudi menjelaskan, saat ini LKS beranggotakan 161 panti asuhan yang tersebar di Surabaya tanpa memandang agama dan suku. " Untuk pengajuan bantuan, kami organisasi dibawah binaan Dinas Sosial Surabaya di anjurkan untuk melegalkan organisasi dan kami sudah mengupayakannya dengan biaya swadaya. Namun setelah dinyatakan legal bantuan juga tidak kunjung datang," urainya.
Dalam mencukupi kebutuhan panti asuhan naungan LKS, sekitar 40-an pengurus berinisiatif mengadakan urunan sebesar 100 rb per bulan. " Dana ini setiap bulan kita bagikan ke tiga panti secara bergiliran. Dan setiap panti kita beri 1 juta," jelas Suudi.
Maka dari itu, pada kesempatan bertemu dengan Relawan Machfud Arifin-Mujiaman Suudi beserta beberapa pengurus LKS mengharapkan kedepan Pemerintah kota Surabaya utnuk lebih perhatian terhadap Panti Asuhan, Panti Werda dan panti-panti yang lain.
" Hal ini banyak yang tidak tahu, tapi kami selaku pengurus tahu keberadaan panti asuhan di Surabaya," katanya.
Untuk kesekretariatan, masih Suudi, LKS bertempat di Jl. Dukuh Kupang XIX/35 yakni di rumah ketua LKS Budi Hartoyo. " Didaerah lain, LKS bahkan diberi fasilitas mobil operasional dan fasilitas keskretariatan. Di Surabaya, untuk pendampingan saja kami tidak ada," sesal Suudi kepada Nawacitapost.
Ditempat yang sama, Wahyu Anugrah salah seorang relawan Surabaya MAJU mengaku miris mendengar keluhan pengurus LKS Surabaya.
Ia pun mengaku baru mendengar dan mengetahui kondisi memprihatinkan seperti ini. Disaat Pemkot yang katanya mendapat ratusan penghargaan, namun tidak ada perhatian terhadap anak yatim piatu.
" Merawat taman per-tahun habis ratusan miliar, tapi tugas pokok memberi makan anak yatim tidak diberikan," ujarnya.
Dalam hal ini, Wahyu berjanji akan segera menyampaikan kepada Machfud Arifin-Mujiaman agar apabila diberi amanah oleh warga untuk memimpin bersikap lebih peduli, khususnya terhadap anak-anak yatim dan Lansia terlantar di panti Wreda.
" Kota yang MAJU bukan dinilai dari penghargaan, tapi apa yang sudah diperbuat untuk warganya," tutup Wahyu. (BNW)